Inspirasia

Aku dan Okwudili Ayotanze

Oleh: Rina Eklesia

Bersahabat dengan seorang Narapidana terlebih terpidana mati mungkin terkesan aneh. Namun bagi aku, persahabatan bukan di lihat dari apa dan siapa seseorang itu.

Dan aku sungguh bersyukur sekali pun dalam usia kehidupan ku, aku memiliki banyak sahabat. Walau ada beberapa orang yang pernah ku sangka akan menjadi sahabatku, sesejatinya sahabat.

Yang saling menguatkan dan senantiasa ada bahkan di masa tersulit sekali pun. Tapi kenyataan berkata lain. Dan aku harus belajar dari waktu, karena waktu kan membuktikan kebenaran.

Sekitar tahun 2004 aku mengenal sahabatku ini. Seorang anak muda yang baru dipindahkan ke Nusakambangan. Aku terkesan saat dia bermain gendang dalam satu ibadah di sana.

Aku baru tahu bahwa dia adalah terpidana mati, saat dia mendekatiku dan menyampaikan kekagumannya pada khotbahku kala itu.
“Mam, you’re different. Your preach was so powerful. I’m really touched.” Kalimat pertama yang disampaikannya kepadaku,
kemudian kami pun berbincang ringan.

Dalam kunjungan rutinku ke Nusakambangan, aku kian mengenal dia. Aku kagum akan sosoknya yang berwawasan luas walau dia hanya lulusan Primary School (SD).

Waktunya di penjara di habiskannya dengan menulis dan menciptakan lagu. Ratusan lagu telah dia ciptakan yang sebagian ada di tiga album yang sempat dia lahirkan di sana.

Dia juga rajin membuat beraneka keterampilan. Bahkan jiwa kepemimpinan yang luar biasa membuat dia sangat menonjol di Nusakambangan. Siapa pun yang pernah ke Nusakambangan sepertinya mengenal dia.

Banyak hal tentang dia yang aku tahu dari perbincangan kami. Terlebih saat dia meminta ku menjadi spiritual mentornya.

Aku selalu menempatkan diriku sebagai kawan bagi mereka yang di sana.
Walau sebagai mentor, aku tak mau menggurui mereka. Mungkin ini yang membuat aku selalu diminta mereka menjadi pendamping rohani mereka saat waktu eksekusi yang pahit itu tiba.

Sejujurnya, aku lah yang belajar banyak dari mereka. Ya, dengan mereka aku belajar memaknai tulusnya tugas kemanusiaan, arti ketegaran dan murninya persahabatan.

Sebagai seorang perempuan yang berkawan dengan mereka dengan segala predikatnya, aku merasa nyaman sebab tak sekali pun aku dilecehkan. Aku menjadi kawan, saudara bahkan Ibu bagi mereka.

Kembali ke sahabatku ini, dia adalah orang yang paling tegar yang pernah aku kenal.

Meski dia pernah berkata :
“Tak ada ketakutan yg melebihi ketakutan kami. Melewati hari menanti Jaksa memberi tau bahwa kami akan dieksekusi”

13 tahun lebih dia menanti saat itu. Namun hari-harinya senantiasa dilalui dengan banyak melakukan hal baik. Dengan segenap tenaga jua, aku berupaya membebaskannya dari eksekusi.

Berbagai proses hukum dilalui. Tetapi memang masihlah sulit menemukan yang namanya keadilan di negara yang katanya adalah negara hukum ini.

Hingga malam tanggal 29 April, aku sendirilah yang mendampinginya di detik-detik terakhirnya lepas tengah malam itu.

“Thank you, Mam. You’re such a wonderful woman with your big kind heart. Don’t worry. I’ll be fine.”

Itu katanya saat kami berdoa memuja Sang Maha Esa, sesaat sebelum regu tembak menghantarnya ke Tuhannya.

Setelah 11 tahun sebagai spiritual mentornya, aku pun harus tegar melepasnya. Dan aku merasa sangat terharu ketika dia meminta jasadnya dikuburkan di Ambarawa.

“Aku ingin dekat dengan anak-anak Eklesia. Agar mereka tidak mengulangi kesalahanku. Aku tahu bagaimana hidup dalam kemiskinan. Aku juga anak yatim yang kehilangan Ayahku di usia tujuh minggu.

Betapa bersyukurnya mereka, sebab mereka punya seorang Ibu yang berjuang untuk mereka.” Katanya ketika aku menemaninya di ruang isolasi sebelum eksekusi.

Banyak pembelajaran indah lainnya yang aku dapat dari dia dan persahabatan kami.
Tentang kisah kehidupannya hingga akhirnya dia menyerah pada regu tembak.

Tentang ceritaku, luapan rasaku, mendampingi mereka bertahun-tahun yang akhirnya harus membimbing mereka ke tiang eksekusi.

Aku menulisnya dalam buku “Aku Mau Hidup.” Judul yang aku pilih dari suara hati terdalamnya.
Buku ini akan segera launching dan di film kan yang rencananya menjadi “come back” nya Mas Eros Djarot di dunia sinema tanah air.

Semoga kita dapat sama belajar.
Bahwa kehidupan ini indah dan kini kita ada di dalamnya. Mari bersama kita menabur kebaikan dan menebar senyum pada bumi, selama baju kehidupan masih kita kenakan dan belum terlepas.

( Rina)