Idea

“AMONG TANI, DAGANG LAYAR”

Oleh: Satwika Ganendra. M.Psi.

Peluang Mangkupurwo Gumregah. Tulisan ini sengaja melengkapi artikel terdahulu tentang prospek pembangunan Kawasan Segitiga Emas Mangkupurwo (Magelang, Kulon Progo, Purworejo)

Konon sebuah pembangunan memang bertali-temali dengan lingkungan sekitarnya, alias bersinergi dengan membuka peluang seluasnya bagi akses pembangunan di sekitarnya.

Dan peluang itulah yang hendaknya “diterkam” oleh pemerintah daerah di berbagai wilayah, mengiringi pembangunan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), di Temon Kulon Progo.

*****

Adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X yang berketetapan mewujudkan visi dan misi “Among Tani dan Dagang Layar” menjadikan pantai selatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi DIY. (Dibyo Soemantri, Koran Bernas, 20/3/2016)

Dan begitulah, denyut nadi pembangunan itu kini terasakan dengan kehadiran Bandara YIA, dan pembangunan DIY yang mengarah ke wilayah barat dan selatan. Semisal pembangunan pelabuhan perikanan, pembangkit listrik bertenaga bayu, dan pabrik pasir besi.

Konon wilayah selatan DIY akan menjadi “beranda depan” pusat pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana dikatakan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D bahwa DIY ibarat rumah yang punya pintu baru menghadap ke selatan.

Sehingga bukan hanya perabotan rumah atau “tata letak” yang harus di evaluasi, melainkan juga berbagai prasarana dan akses masuk, yang harus dibangun, untuk merajut pengembangan secara “integrated”.

****

 

Lantas wilayah manakah yang patut menyambut visi dan misi DIY tersebut?
Tidak lain adalah Kawasan Segitiga Emas MANGKUPURWO, yang sesungguhnya telah memiliki “comparative advantage”. Tinggal menantikan Sumber Daya Manusia nya “menggeliat” dan “gumregah”.

Diinspirasi lagu Indonesia Raya yang merupakan karya “masterpiece” WR Soepratman yang berdarah Purworejo “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” maka Sesmen PAN & RB Dwi Wahyu Atmaji menginisiasi bangunnya jiwa masyarakat terlebih dulu dengan merubah stigma Purworejo dari “Kota Pensiunan” menjadi “Kota Pejuang.”

Ke depan diharapkan seluruh lapisan masyarakat dan pengampu kewenangan memiliki semangat, kreativitas dan keinginan berprestasi guna membangun daerah tumpah darah secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jika Kabupaten Kulon Progo memprogramkan pembangunan “Aerotropolitan”, dan PT Angkasa Pura 1 siap dengan lahan pembangunan “Aerocity”. Dengan begitu, kedepan akan terajut akses Kulon Progo dengan kota Yogyakarta dan wilayah sekitarnya.

Maka sudah tentu, diiringi geliat pembangunan Magelang dan Purworejo, yang memanfaatkan peluang obyek wisata di Bukit Menoreh, Glamping De’Loano, Candi Borobudur serta beragam obyek wisata lainnya. Tentulah upaya pembangunan wilayah serta peningkatan kesejahteraan masyarakat akan terwujud optimal.

Nah, kalau bukan kita, lalu siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi ?