Idea

ANDAI AKU BUPATI PURWOREJO 2020

Oleh: Julian Garfield ( Banten)

AKAN KUTERBANGKAN KOTA INI KE LANGIT KETUJUH.

Fajar mulai menyingsing, awan kelabu menyelimuti langit Ngombol, bahkan separuh dari ufuk mulai tampak jingga kemerahan. Bapak, sepulang dari sawah terlihat raut muka keriput kelelahan. Umur yang sudah lebih dari tiga perempat abad mendedikasikan diri untuk keluarga.

Beliau mulai membersihkan baju penuh lumpur dan gagang paculnya di depan rumah menggunakan rerumputan yang tumbuh subur di tanah Ngombol. Sesekali terdengar suara ayam jago berebut sajian makanan sore bercampur katul dan nasi bekas. Semilir angin berhembus dari area persawahan yang subur, menerpa pepohonan rindang di depan rumah.

Kerinduan akan kampung halaman yang penuh dengan keceriaan masa kecil dan kehangatan keluarga kian memuncak di dalam hati. Ingin rasanya berpulang ke pangkuan orang tua setiap hari, namun apa daya, sebagai seorang perantau, keinginan itu seolah-olah hanya semu belaka. Hanya melalui saluran telepon kami bisa melepas kerinduan bersama kedua orang tua. Kedua orang tua yang senantiasa memberikan naungan dan kedamaian di masa kanak-kanak.

Waktu semakin cepat berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Bahkan tahun kini hanya seperti menjentikkan jari, begitu cepatnya. Purworejo menjadi semakin tua seiring perkembangan teknologi digital, tertinggal jauh dengan kabupaten  ataupun kota di sekitarnya.

Kebumen menjelma menjadi kota industri di pesisir selatan Jawa, sedangkan Magelang sudah lebih dulu menjadi kota pariwisata. Wonosobo tidak mau ketinggalan, begitu juga dengan Jogjakarta sang empunya budaya Jawa.

Apa kabar dengan Purworejo? Kota mati penuh ilusi masa depan. Segudang cita-cita tinggi dan problematika lama, menjadi mimpi buruk bagi kamu muda yang produktif dan aktif untuk meraih masa depan. Warganya dipaksa menjalani kehidupan dengan peradaban stagnan dan kemunduran.

Lebih dari separuh dari pemuda Purworejo menggantungkan hidup dari merantau. Kota mereka ditinggalkan tanpa ada kesan untuk lebih memartabatkan. Lebih jauh lagi, mereka hidup di negeri orang, menjadi besar di negeri orang dan lupa negeri sendiri. Pemerintah daerah harusnya lebih peduli dan memprioritaskan mengenai lapangan pekerjaan di kabupaten Purworejo.

Sehingga kabupaten Purworejo dapat tumbuh dan berkembang melalui tangan-tangan pemudanya. Seabad lebih kabupaten Purworejo berdiri, kabupaten ini belum bisa keluar dari zona degradasi. Berdiri sendiri dari penghasilan asli daerah, dan masih bergantung kepada bantuan pemerintah pusat yang disubsidi dari daerah lain.

Purworejo memiliki sumber daya alam yang melimpah, didukung oleh sumber daya manusia yang cerdas. Terbukti, trah Purworejo menjadi pendobrak pada skala nasional bahkan internasional. Jika semua ini diperhatikan dengan memberikan kebijakan yang tepat, tak munafik apabila Purworejo bisa bersanding seirama dengan Jogjakarta.

Sebut saja potensi kawasan pantai selatan yang membentang dari Ketawang perbatasan Kebumen hingga Jatimalang perbatasan Jogjakarta. Sumber penghasilan dari pariwisata dan sumber daya kelautan melimpah ruah. Belum lagi kawasan timur Purworejo yang berbatasan langsung dengan kabupaten Kulonprogo, telah berdiri spot bandara terbesar kedua di Indonesia yang melayani penumpang lokal dan mancanegara.

Jika kelak aku menjadi bupati Purworejo nanti, akan kubangun industri pariwisata berbasis kearifan lokal dari mulai sepanjang pantai selatan Ketawang hingga ujung timur perbatasan Jogjakarta. Perbukitan Menoreh, Kaligesing hingga perbatasan Wonosobo juga tidak ketinggalan akan lebih bersolek dengan pariwisatanya.

Dari sisi ekonomi, industri-industri kecil akan tumbuh dengan memprioritaskan keahlian sumber daya manusia setempat. Perusahaan-perusahaan besar ibukota akan ditata rapi di sepanjang kawasan industri yang akan dibangun di sebelah barat perbatasan Kebumen.

Dari sisi pendidikan akan dibangun universitas ternama untuk bergabung dengan pendidik lokal yang mempunyai daya saing. Tak terlepas dari segi peribadatan, Purworejo memiliki beberapa pondok pesantren yang akan bekerjasama dengan dunia pendidikan lain. selain itu, kerjasama dengan para stakeholder dan pemegang kepentingan harus terus dijaga dengan tetap memprioritaskan kepentingan masyarakat Purworejo.

Dalam skala besar, pemuda-pemuda Purworejo akan tampil di negerinya sendiri, pilihan tepat berkarir dan membangun Purworejo lebih jauh lagi.

Sungguh tragis apabila potensi yang begitu besar dilewatkan begitu saja. Dananya dari mana? Pinjaman terbuka lebar, bisa didapat dari Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, bisa juga dari Bank Indonesia. Semua akan berjalan lancar demi kepentingan masyarakat Purworejo.

Simple to…?