Idea

Persatuan Perantau Menuju Purworejo Hebat !

Oleh: Sidiq Al Plausani

Kabupaten Purworejo sudah terkenal sejak dulu, sebagai pemasok putra-putri terbaik di negeri ini. Mulai dari bidang militer, politik, kesehatan, agama, kebudayaan dan banyak lainnya. Selain memang di takdirkan oleh Tuhan YME mungkin berasal dari DNA unggul, juga letak posisi yang strategis, letak antara Jogjakarta dan Jakarta dan di dukung oleh transportasi ( kereta api), yang sejak jaman Belanda sudah ada.

Kabupaten yang awalnya bernama Brengkelan ini terdiri dari 494 desa. Tipikal dari anak daerahnya ialah dalam dialektika  terbagi dua, antara bahasa Jawa ngoko, halus yang mendekati Jogjakarta dan separuhnya Banyumasan, Ngapak yang berbatasan dengan Kebumen.

Putra daerahnya pekerja keras, cepat beradaptasi dan selalu unggul di dalam persaingan jika merantau ke luar. Sejak jaman orde lama, tepatnya tahun 1960, persatuan dan forum yang ditujukan untuk mengayomi dan memantau perkembangan Kabupaten Purworejo tercinta ini sudah diupayakan oleh sesepuh-sesepuh.

Seperti ide Jend TNI Ahmad Yani yang di bantu para sahabat dari tlatah Bagelen dan yang mempunyai hubungan emosi dengan Purworejo membentuk Ikeba.Ikeba sebagai formatur ialah istri daripada tokoh-tokoh tersebut. Jend TNI Ahmad Yani, Mayjend TNI Pranoto Reksasamudera, PM Ahmad Subarjo dan banyak lainnya.

Purworejo di rantau sangat banyak sekali paguyuban daerah yang menyampaikan aspirasi, juga tempat berkumpul “ sedulur-sedulur” dari Kabupaten Durian ini. Baik yang setingkat kecamatan atau berupa  almamater sekolah, dan skala kabupaten.

Boleh kita sebut ada Pakuwojo ( Paguyuban Keluarga Purworejo), CPP ( Cah Purworejo Perantauan, Pakutho ( Paguyuban Keluarga Kutoarjo), Pagar ( Paguyuban Grabag), PWB ( Paguyuban Wayah Bagelen), POP, ACP, atau yang perkumpulan almamater sekolah seperti MG ( Muda Ganesha), Gundala ( SMK PN) dan banyak lainnya.

Sebagai hal yang lumrah dalam sebuah “ rumah tangga “ organisasi, tentu saja ada silang pendapat, karakter yang bervariasi dan banyak lainnya. Visi misi yang sama, kepemimpinan yang kuat serta kaderisasi dan keteladanan yang baik. Ini mungkin yang bisa menjadikan sebuah roda organisasi paguyuban daerah, community hub dan sejenisnya bisa berjalan maksimal dengan cita dan program kerjanya.

Seperti yang di tangkap dari pertemuan santai, “ ngudarasa” 10 putra-putri Purworejo di Resto Tesate Lt 5 Pacific Place ini, Wahyu Dwi Atmaji sebagai tuan rumah menyatakan “ Purworejo sebagai daerah yang terus di beri program-program pusat harus menangkap peluang ini dengan persatuan perantau berpendidikan yang solid.” tukas Sekretaris Menteri PAN RB ini.

Semua sepakat, bagaimanakah  dan wujud apakah sebuah formulasinya. Dari pertemuan santai yang di inisiasi oleh Ketua Umum Muda Ganesha ini juga di hadiri Drs H Agus Guntur PM ( Apindo DKI Jakarta), Brigjen Pol ( Purn) Jati Wiyono, Chusminah ( dosen)  Thoyibudin MK ( Kalog Logistics), H Darpoko ( pengusaha), Supriyanto ( Yayasan Paru), Dr Reban Mirnorejo ( Mabes Polri), dan  Muhammad Sidiq .

Semua sepakat, dari macam-macam paguyuban, komunitas dan karakter kuat sebagai ciri khas “ putra Bagelen” yang jika di lesatkan ke luar, untuk berkompetisi secara personal menghadapi dunia luar, kita sudah teruji dan sebagaimana di contohkan oleh moyang-moyang Purworejo terdahulu bisa membuat Universitas Gunadharma, Gadjah Mada, Kementerian Kesehatan dll.

Yang di butuhkan sekarang ialah, kesepakatan moral dan tanggung jawab bersama. Keluwesan sikap dan keluasan pengetahuan. Mau di tinggali apa anak cucu kita dengan keberhasilan meraih jabatan, posisi kita. Dan Kabupaten Purworejo yang di gelontor megaproyek di sana atau di sekitarnya seperti Kawasan Otorita Borobudur, Bendung Guntur, Bandara NYIA, jalan tol dan banyak lainnya.

Mari kita evaluasi bersama.