Idea

Ayik Soegeng: Karya Album Guruh Gipsy Sangat Berkesan Untukku.

Oleh: Ayik Soegeng

Guruh Soekarno  Putra

Guruh Gipsy adalah salah satu harta karun untuk bangsa ini. Satu catatan kekaryaan  abadi. Satu  sejarah besar di bidang musik. Lompatan yang jauh ke depan pada masanya, kolaborasi yang apik dan sangat epik dari sang penggagas Guruh Sukarno Putra dan Gipsy band yang di gawangi Keenan Nasution dkk. Gipsy berawal dari grup Sabda Nada yang sudah dulu sering bermain musik di medio 1966.

Selepas dari kuliah di Universiteit van Amsterdam Belanda, Guruh  sudah diskusi banyak dengan Erros Djarot yang saat itu juga menempuh pendidikan di Jerman. Keduanya banyak memantik dan memunculkan ide-ide bernas, dan Guruh Gipsy ini salah satunya.

Inspirasi Guruh salah satunya berasal dari karya Collin Mc Phee & Claude Debussy pasangan musisi Kanada dan Prancis sekaligus nafas Bali yang bisa di lihat dari  karya-karya Guruh sejak dari sampul album dan isi lagu. Karya musikalitasnya  di kemudian hari akan menjadi catatan spesial dan bisa sebagai simbol “darah muda” , para musisi muda yang melakukan perlawanan.

Sesuatu yang tidak lumrah pada masa itu. Tentu saja dengan memperhatikan pangsa pasar, selera musik dan wawasan bermusik atau gagasan dari para musisi di tahun 1970 an awal.

***         ***        ***

 

Dari sinilah sedikit kisahku akan ku rangkai dan coba saya persembahkan. Terutama kepada dik ilhan yang sangat giat mencari beberapa puzzle kisah saya dengan Mas Guruh dan tentu saja dengan karya monumental budayawan kebanggaan kita dengan album  Guruh Gipsy nya tersebut.

Nama saya Ayik Soegeng, teman-teman kecil, saudara dan kerabat baik di Purworejo atau Jakarta banyak yang memanggil dengan Ayik saja. Sedari usia lima tahun sampai  menghabiskan masa remaja di kota Purworejo yang sangat saya cintai ini.

Sampai detik ini, pun toh jarang pulang ke Purworejo, tapi sudut-sudut jalan dan kenangan-kenangan bersejarah di seantero daerah itu masih sangat saya hapal. Rumah orang tua saya yang ada di bilangan Pantok, tepatnya di samping kantor Perhutani Kedu Selatan.  Sekarang sudah tak berbekas bentuknya. Menjadi toko-toko dan dengan imajinasi kolektif saja saya menyimpannya.

Dari SD, SMP Bruderan dan SMA 1 Purworejo sampai   selesai di tahun 1968. Kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi. Sama seperti anak muda kebanyakan di daerah ini. Cara  mencari perbaikan hidup ya bermigrasi ke kota-kota besar di Indonesia, entah itu untuk pendidikan atau mencari penghidupan.

Kuliah saya selalu DO. Tak pernah selesai kuliah. Baik itu di Unisula Semarang, DO. Kemudian pindah di ABA Jakarta juga DO. Kuliah saya yang sering, bahkan sangat rajin di TIM. Tepatnya nongkrong dan berkumpul bersama teman-teman di sana.

***      ***      ***

 

Interaksi dan pertautan saya dengan Guruh Gipsy, tentu harus di telusuri asal muasalnya. Sampai kini ditahun 2020 pun kami masih sering silaturahmi dan bersapa kabar.

Kurang lebih ada 14 tahun saya ikut dengan Mas Guruh Sukarno Putra. Dan sangat hapal dengan visi, pemikiran atau gagasan-gagasan yang mewujud dalam berbagai karya-karyanya.

Beliau adalah seorang genius di bidangnya. Dan dia selalu bisa menempatkan diri sebagai teman, bukan sebagai atasan. Mungkin karena pendidikan estetika dan budaya dari keluarganya yang bagus atau saya lebih senior dari segi usia. Entahlah.

Mas Guruh Sukarno Putra sedari kecil sudah di jejali bacaan, dan ikut dalam les-les musik atau tari yang memang semua anak Presiden Sukarno diwajibkan untuk hal ini. Beliau bisa bermain piano klasik, gamelan , tari-tari Bali juga beragam terori musik yang sangat luas. Beberapa guru tari Bali dan musiknya banyak yang dari Bali seperti I Made Grindem, I Gusti Kompiang Rake, Wayan Diye dll.

Awalnya aku  kerja di majalah Model milik mas Guntur Sukarno Putra,  sekitar tahun 1974.  Lantas di tahun  1975 aku diperkenalkan dengan  Guruh, yang  pada saat itu sedang persiapan rekaman Guruh Gipsy.

 

Guruh bertanya, apa saya bisa melukis? Saya jawab bisa. Kemudian saya  diberi tugas membuat lukisan. Yaitu bernarasi  Guruh Gipsy sedang main musik, tapi dengan  gaya lukisan Bali.

Dengan  susah payah akhirnya jadi juga. Susah payah dalam  arti sebenarnya lho ya, karena  Guruh sendiri juga bisa melukis. Dan  dia orang yang kalau berkarya tidak dengan hasil setengah-setengah.  Hasil akhir harus berkualitas.

Tahun  1977 Swara Mahardhika lahir.  Setiap pagelaran saya dilibatkan. Pagelaran pertama saya, ialah  bertugas sebagai perancang grafisnya. Pagelaran pertama belum ada nama. Judulnya Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra.

Pergelaran berikutnya saya diberi tugas berbeda. Saya sebagai penanggung jawab panggung, dekorasi, dan properti. Di mana  sebelumnya belum pernah saya kerjakan. Jadi ini pengalaman pertama saya. Langsung diberi tugas berat.

Beberapa dekorasi & panggung yang saya kerjakan seperti Untukmu Indonesiaku, Cinta Indonesia, Gilang Indonesia Gemilang, Gempita Swara Mahardhika dan banyak lainnya, serta beberapa dekorasi pertunjukan Swara Mahardhika di luar negeri.

Setelah Guruh bikin GSP Production, kemudian  saya mundur.  Tetapi hubungan pertemanan masih sangat baik. Pun terakhir di tahuh 2012 saya masih bantu dekorasinya di pergelaran Beta Cinta Indonesia.

Perihal kover sampul album Guruh Gipsy, yakni kaligrafi Dasabayu, berupa rangkaian 10 aksara Bali yaitu rinciannya, I-A artinya adalah kejadian atau keadaan, kemudian A-Ka-Sa ialah kekosongan atau kesendirian dan Ma-Ra ialah baru, La-Wa yaitu kebenaran dan Ya-Ung atau sejati.

Suatu keadaan yang kosong, tetapi nantinya akan menjadi sesuatu, kebenaran yang hakiki. Guruh Gipsy ini adalah sangat spesial buat saya dan albumnya ialah sebuah mahakarya untuk dunia musik saat itu sampai sekarang.

Kover Guruh Gipsy yang dengan 10 aksara Bali serta ada tagline kesepakatan dalam kepekatan ini dan isi buku panduan album tentu selain saya juga ada kesepakatan dan persetujuan dari Guruh dan Didit. Ya, kami bertiga.

Begitulah sekilas sedikit cacatan, rekam jejak saya kenapa bisa dengan Guruh dan ikut serta dalam pembuatan album monumental Guruh Gipsy.

Selain kover album Guruh Gipsy, ada juga beberapa musisi dan band yang kebetulan juga album kaset nya saya ikut serta. Seperti Chrisye dengan Pantulan Cita, Jockie Soerjoprajogo dkk dengan Penantian, Swara Mahardhika juga Fariz RM.

Tahun  1988 saya mundur dari Guruh. Di tahun 1989 masuk RCTI sampai 1994. Dan kemudian  di kontrak di Dinas Pariwisata DKI Jakarta untuk program promosi DKI  Jakarta ke luar negeri.