Inspirasia

Berebut Tahta & Mol Bidadari

Oleh: Saiful Anwar ( Jakarta)

40 tahun lalu, saya sering berlari mengejar gerobak yang hilir mudik di jalan utama Tambakrejo, untuk sekedar bergelantungan di belakangnya. Grakkk, dagu sakit sekali, karena mengenai balok kayu yang menjorok di bagian belakang.


Tapi rasa sakit itu diabaikan saat berhasil dibawa lari kuda yang menarik. Berteriak riang tak peduli pada kawan-kawan yang gagal merebut balok menjorok. Hari ini jadi pemenang belum tentu nanti bisa merebut lagi saat ada gerobak lain yang melintas kami kembali berebut.

Terkadang sayapun terjatuh, karena berlari memakai sandal jepit, terinjak teman lain. Aduh, lutut berdarah, tapi kembali berlari mengajar teman yang berhasil merebut dua tahta kiri kanan dibagian belakang gerobak . Jadi hanya dua anak saja yang berkesempatan bergelantungan, karena balok itu hanya dua dan setiap balok hanya bisa digelantungi satu anak.

Begitu sampai rumah entah dagu yang membiru atau lutut berdarah. Yang pasti selalu kena marah. Tapi dari situlah saya belajar berani dan harus berani berdarah….
*** *** ***

Gerobak kuda di Tambakrejo bentuknya sangat indah, sayang sekali waktu itu saya belum punya kamera. Hahahahaha. Silahkan dibayangkan sendiri ya. Kuda penariknya ada yang satu ada yang dua, gerobak berbentuk segi panjang bagian bawah, sedang penutup tabung setengah lingkaran.

Dibagian belakang selain ada dua tahta di kiri kanan yang sering dieperebutkan bergelantungan anak anak , diatasnya tertutup, terdapat hiasan dari potongan kaca yang membentuk bunga seruni menempel pada kayu yang mendominasi bagian gerobak serta jendela kecil bisa untuk melihat ke belakang bagi penumpangnya.

Entah buatan mana Gerobak Tambakrejo, menurut saya justru mirip gerobak di India kaya ornamen blink-blink dari potongan kaca. Woe woe woe, begitu teriak penarik gerobak, kalau bagian belakang terlalu berat, sehingga kuda berkurang larinya. Kami dibelakang tertawa tawa riang tak peduli. Kadang kami juga sering dapat hadiah dari penariknya,, bunga kelapa atau “Kenthos”. Gerobak selain untuk mengangkut hasil sawah, padi dan sayuran lebih banyak digunakan untuk mengangkut kelapa.

Nah, pengendali gerobak yang mengangkut kelapa kalau perjalanan jauh, sering istirahat tempat teduh,dan kami pun diajak menikmati air kelapa. Kalau kelapa ada kenthosnya, siapa yang dapat ? Yang tidak berhasil merebut tahta dan berlari dibelakang gerobak akan mendapat hadiah kenthos. Heee, adil dan baik kan?


Kenthos rasanya manis sedikit bau minyak kelapa dan berair. Enak. Bagi kami anak desa mendapat kenthos duh senangnya. Banyak sekali pelajaran diperoleh dari nakalnya anak-anak. Meski kami tentu sering membuat kesal, tapi tetap diberi air kelapa dan kenthos, yang terus saya ingat hingga hari ini.

Waktu berganti. Gerobak kuda, kereta kuda, dokar digantikan angkutan angkutan bermesin, karena jalan berbatu telah berganti jalan aspal pembangunan masa Presiden Soeharto. Warga banyak yang membeli mobil-mobil yang dimanfaatkan untuk mengangkut hasil bumi atau mengangkut warga. Hilang sudah persaingan merebut tahta kiri kanan gerobak.

***  ***  ***

Tapi desa Tambakrejo tetap menyenangkan dan sungguh permai alamnya. Di kelilingi sawah dan pegunungan. Saat itu kami belum peduli dengan apa itu pesona keindahan. Yang ada saya main dan bermain. Saat awal musim tanam, di sawah kami berburu belut dengan membantai katak kecil sebagai umpannya. Kami berlomba mencari lubang-lubang di sawah dari tepi pematang.

Memilin plastik rafia sebagai talinya, ambil peniti dibengkokkan diikat bagian ujung tali pilinan. Crass, katak kecil yang sudah dibantai kita tusuk dan masukkan ke lubang belut. Begitu berasa tertarik kedalam. Balas dengan menarik keatas pelan pelan.

Zleppp, begitu terlihat kepalanya segera kita angkat setinggi mungkin tali pancing kita putar putar seperti baling-baling helikopter. Biar semua melihat kita berhasil mendapat belut kecil. Hahahahahhahaaa.Kenapa harus diputa-putar? Katanya biar belut pusing dan pingsan.

Kami baru menikmati keindahan alam saat bulan Ramadhan, Karena mengurangi bermain-main yang menguras tenaga. Usai shalat subuh kami jalan jalan menikmati segarnya udara. Hahahahaa, kadang sampai jelang Dzuhur baru sampai rumah sudah lunglai lirak-lirik air sumur untuk segera wudhlu.


Pemandangan desa Tambakrejo disisi Timur dipagari perbukitan Menoreh dengan hamparan sawah luas menghampar di Sidorejo dan Sidomulyo bak permadani kalau sudah menguning. Di sisi barat Sungai Bogowonto menjadi pembatas alami dengan Kelurahan Baledono.

***  ***   ***

 

 

Disisi utara selain bukit Geger Menjangan berdiri kokoh gunung Sumbing yang memiliki 1000 cerita bagi kami.
Dari kisah Hanoman yang marah sehingga bagian pucuk gunung Sumbing di sentil dan terlempar menjadi bukit Geger Menjangan, hingga kisah pasarnya para bidadari di gunung Sumbing. Setiap ada pelangi usai hujan turun kami anak anak berimajinasi sendiri sendiri memandang gunung Sumbing para bidadari yang sedang shoping.

Gunung Sumbing khayalan kami saat itu mol terbesar termegah pada masanya. Begitu saya naik gunung Sumbing pasar bidadari itu tidak saya temui. Hahahaha. Padahal saat melangkah naik dari kaki Sumbing saya berharap berjumpa para bidadari yang sedang shoping, atau para bidadari sudah terusik para pendaki..?

Kapanpun kami bisa menikmati pesona Sumbing. Saat pagi dan sore terutama Sumbing kami tatap dari Mbulak Sidomulyo atau dari Mbulak Sikowok, pandangan bisa sejajar, dengan latar depan persawahan dan pembatas barisan pohon kelapa Krajan Tambarejo berbelok ke dusun Manisjangan.

Kadang saya bersama teman teman memilih menyusur Bukit Menoreh, berburu tanah liat untuk membuat prakarya atau sekedar membuat gerbah mainan dan dibakar. Prak, tapi retak dan pecah. Hahahahaa, karena membakarnya dengan suhu api bakar singkong dengan kayu yang ada. Yang penting liburan kreatif.

Ada musim tembak-tembakan dan sumpit, nah ini waktunya kami merambah Menoreh mencari bambu tulup. Di Menoreh bambu ini cukup berlimpah, kami sudah hafal tempatnya.

Di kaki gunung Suru kami biasa memotong. Prakkkk, hummm wauwwww. Seketika kami berlari tak tentu arah sambil berteriak “Macannnnnnnnnnnnnnnn, hahahaha kami semua terkejut tanpa dikomando akan berlari tunggang langgang saat belum sempat memotong bambu tulup.

Di kaki gunung Suru saat itu kami masih biasa menjumpai kucing hutan yang disebut Blacan. Karena tinggi kami masih semeter lebih 10 centi mungkin, jadi saat kucing hutan terusik dengan kedatangan kami …teriaknya MACANNNNNNNNNNN. Hahahaha…

***  ***  ***

Tambakrejo saat ini merupakan salah satu kelurahan di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, hanya sekitar 7 menit dari Alun Alun Purworejo kendaraan bermotor. Tetap dengan suasana tenang desa khas Jawa Tengah.

Disinilah Mbah (Kakek) Buyut saya dari pihak Ibu membangun tempat tinggal sehingga berketurunan yang menyebar di berbagai belahan bumi. Kakek Buyut juga membangun masjid sekitar pertengahan Tahun 1800 an masjid Abdul Djalil dari nama beliau.

Dan di kompleks Kakek Buyut membangun tempat tinggal Dedalem Tambakrejo bearda, tempat yang nyaman buat istirahat menikmati suasana desa. Atau mau mengadakan acara pernikahan, reuni bisa menggunakan joglo yang ada.

Mau menikmati wisata di Purworejo dari Dedalem Tambakrejo, yang terdekat taman Batu Pajangan di lereng Menoreh hanya sekitar 5 Kilometer. Atau mau ke Candi Gondo Arum sekitar 15 Kilometer, kuliner ke Kota Purworejo 10 menit, Pantai Dewa Ruci, Pantai Jetis, Pantai Ketawang 30 menit sampai, atau mau Ke Puncak Benowo menikmati 7 puncak gunung bisa juga ke Bukit Avatar Bruno.

Atau mau istirahat menikmati sekitar Tambakrejo, berburu belut, melihat panen padi, menyusuri Menoreh. Ada nasi megono khas Tambakrejo, ada lupis Mbah Ruslan yang sudah ada sejak setengah abad lalu..

Setiap sudut Indonesia adalah anugerah Nya. Syukurku selalu ada buat semua keindahan ini.

About the author

pronect

2 Comments

Click here to post a comment