Idea

Driyarkara, Pancasila & Manusia

Driyarkara, Pancasila dan Manusia.

Oleh: Teddy Kholiludin

Tafsir Romo  Driyarkara terhadap Pancasila, sependek bacaan saya terhadap tulisan-tulisannya, adalah sesuatu yang orisinil. Driyarkara menafsir Pancasila dengan menjadikan manusia sebagai titik tolaknya. ia menekankan tentang pentingnya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Pancasila, bagi Driyarkara, melekat (inherent) pada eksistensi manusia-manusia. Karena itu, untuk sampai pada Pancasila, maka kita harus memandang kodrat manusia qua talis (sebagai manusia).

Jika kemudian Driyarkara mengaitkan Pancasila dan Religi, maka itu dua hal yang ada pada titik pijak yang sama, kodrat manusia. Tentu bukan berarti Driyarkara mengabaikan Tuhan dalam percakapan tentang Pancasila dan religi. Tapi dia memiliki penjelasan filosofis dalam hal hubungan antara agama, Pancasila dan manusia.

Di kalangan teman-teman Katolik, pemikiran Driyarkara barangkali sudah cukup populer. Beberapa karya yang membahas pemikirannya relatif banyak. Tulisan Romo Mudji Sutrisno, Silvano Keo Bhaghi, I. Praptomo Baryadi, Ign. Agung Satyawan dan lainnya. Mereka mengkaji pikiran Romo Jesuit kelahiran Purworejo itu dalam konteks Pancasila, hubungan agama dan negara, serta hakikat, jatidiri, serta kodrat manusia.

Tulisan ini pun hanya bersifat repetitif, menulis ulang ide Driyarkara tentang Manusia dan Pancasila.

 

*** ***  ***

Was ist der Mensch, und was ist seine Stellung im Sein? Apakah manusia itu dan bagaimanakah kedudukannya dalam realitas?

Pertanyaan yang diajukan oleh Driyarkara diatas sesungguhnya berawal dari soal yang diajukan oleh Max Scheler. Melihat rujukan yang digunakannya, Driyarkara ada pada pusaran fenomenologi atau fenomenologi metafisika kata PJ. Suwarno. Max Scheler merupakan fenomenolog Jerman yang berperan dalam menyebarkan fenomenologi Edmund Husserl. Inilah mengapa dalam salah satu bukunya, Pertjikan Filsafat, Driyarkara menjadikan Husserl sebagai rujukan dalam membahas fenomenologi tentang manusia.

Pancasila, sebagai dalil-dalil filsafat, sesungguhnya adalah jawaban dari pertanyaan yang diajukan di atas. Saya coba menulis kembali ide Driyarkara dalam sub bab. Apakah Gerangan Manusia itu?

Adanya manusia, terang Driyarkara, bersamaan dengan jasmaninya. Manusia meng-ada- di alam jasmani. Ketika saya sedang berada di Semarang, maka Semarang itu adalah sebuah kota di Jawa Tengah yang merupakan bagian dari negara Indonesia dan dunia.

Disitulah manusia berada. Kehidupan manusia, dengan begitu adalah menjasmani. Namun, manusia yang menjasmani itu berarti merohani. Mengapa begitu? “Sebab manusia itu persona (persoon) rohani. Semua kesibukannya adalah untuk mempribadikan diri. Jika kita hendak mengatakan dengan cara ‘yang’ aneh maka dapat juga kita berkata bahwa caranya manusia berada itu dapat disebut dialektis rohanisme,” kata Driyarkara.

Pengakuan manusia terhadap dirinya sendiri berarti juga mengakui yang lain. Menurut strukturnya, kita itu “berupa ada bersama.” Ada (sein) bukan berarti ada sendiri, tetapi ada bersama (Mit-sein). Manusia tak hanya Aku, tetapi juga Kita. Dalam aku (Ich) ada engkau (Du). Tanpa bertemu Engkau, Aku tidak akan menjadi Aku. Aku hanya menjadi Aku ketika bertemu Engkau.

Ada bersama (Mit-sein) itu berarti bahwa bersama dengan hormat dan cinta kasih (liebendes Mit-sein). Manusia tentu kerap diliputi rasa benci. Tapi, itu tak berarti bahwa cinta kasih bisa dihilangkan dalam ada bersama. Justru malah sebaliknya. Hal tersebut akan memperkuat kebenaran, karena benci menegasi cinta.

Fitrah manusia adalah kecintaan. Tapi, manusia tidak diniscayakan oleh kodratnya. Manusia bisa menyangkalnya, memutarbalikannya. Itulah benci. Jadi cinta adalah fundamental. Kalaulah ada bersama itu menurut fitrahnya bukan cinta, tapi benci, maka itu berarti bahwa ada itu sama dengan tidak ada, pengakuan (afirmasi) sama dengan penyangkalan (negasi), hidup sama dengan mati. Ada kontradiksi disitu.

Pancasila sesungguhnya adalah tentang ada bersama dengan hormat dan cinta kasih.

***  ***    ***

Lalu mengapa penjabaran Diryarkara tentang Pancasila tidak dimulai dengan sila pertama?

Sila pertama ada di atas dalam hierarkis menurut nilai. Driyarkara mengakui bahwa dalam konteks struktur nilai, sila Ketuhanan adalah yang pertama. Tapi, cara lahirnya pengertian kita, tidak dimulai dengan sila itu. Sila pertama adalah fondasi semua sila. Namun, dalam kesadaran eksplisit, sila itu tidak kita mengerti sebagai yang pertama. Maksudnya, kesadaran yang bersifat jasmani. Manusia kemudian mengakui bahwa ia terhubung dengan alam jasmani dan sekaligus mengakui bahwa dirinya relatif, terbatas, tergantung dan seterusnya. Disinilah pengertian tentang Tuhan tersirat.

Driyarkara mengembangkan lima dalil filsafat tentang Pancasila. Saya akan kutipkan bagian pertama dari lima dalil itu. “Aku manusia mengakui bahwa adaku itu merupakan ada bersama-dengan-cinta-kasih (liebendes Miteinandersein). Jadi adaku harus aku jalankan sebagai cinta kasih pula. Cinta kasih dalam kesatuanku dengan sesama manusia, jika dipandang pada umumnya, disebut Perikemanusiaan.”

Dalam menjalankan Religi manusia itu menyatukan diri. Manusia itu bhinneka dan dalam hidupnya ia selalu berusaha untuk melawan disintegrasi. Tapi, dalam Religi, manusia menemukan integrasinya. Dengan melakukan Religi, kata Driyarkara, “…manusia mengadakan Neuformierung des ganzen Ich atau pembentukan baru dari pribadinya.”

Driyarkara nampaknya lebih memilih fenomenologis untuk membuat Tuhan jadi lebih dekat. “Jika manusia hanya berpikir secara filosofis,” demikian Driyarkara mengatakan, “Tuhan tampak sangat jauh. Akan tetapi, jika kita secara fenomenologis melihat pengalaman Religi, di situ Tuhan tampak sangat dekat.”

Disitulah, kata Driyarkara manusia mengalami die tielgreifendste personale Ich-Du-Beziehung, deren der Mench fahig ist atau hubungan Aku-Engkau, yan gsedalam-dalamnya, yang dapat dicapai manusia.

 

Driyarkara, Putra Bangsa Yang Visioner.

Oleh: Komaruddin Hidayat

Terlahir di lereng Pegunungan Menoreh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 13 Juni 1913. Kaligesing tepatnya. Orangtuanya memberi nama Soehirman, tetapi setelah memulai hidup baru di Serikat Jesuit (SJ), lalu berganti nama Driyarkara.

Kecerdasan Driyarkara sudah terlihat sejak kecil. Bahkan, ketika duduk di kelas satu SMA, ia sudah menciptakan nama majalah seminar bernama Aquila yang berarti Rajawali.

Namun, Aquila sendiri merupakan akronim dari Augeamus Quam Impensissime Laudem Altissimi (bahasa Latin) yang berarti kira-kira“Marilah kita tumbuh berkembang sekuat tenaga menambah keluhuran Yang Mahatinggi”.

Himpunan karya Driyarkara setebal 1.500 halaman ini merupakan rekaman pengembaraan intelektual sang rajawali dari bukit Menoreh, salah seorang anak bangsa yang pantas dibanggakan.

Karya-karya tulisnya mengasyikkan untuk dibaca, seakan mendengarkan langsung kuliah dari sosok guru yang cerdas dan komunikatif.

Pembaca bisa memilih topik yang dikehendaki secara selektif karena tema yang disajikan sedemikian luas, meliputi persoalan negara, ideologi, pencarian makna hidup, pendidikan, dan kebudayaan. Gagasan besar dan pendekatan filsafat yang selama ini dipersepsikan njelimet dan berat, lewat tangan Driyarkara narasi filsafat menjadi cair, enak dibaca, bagaikan novel.

Bagi mereka yang sudah akrab dengan studi filsafat, buku ini memberikan inspirasi bagaimana disiplin filsafat dijadikan alat analisis dan refleksi kritis untuk meresponi masalah empiris sehingga filsafat tidak terpisah dari konteks kehidupan nyata, baik pada tingkat mikro maupun makro.

Lewat buku ini pembaca juga akan mengenal lebih dekat pemikir-pemikir besar filsafat seperti Edmund Husserl, Max Scheler, dan Maurice Merleau-Ponty. Dari sekian pemikir yang disajikan, tampaknya Malebranche memiliki tempat khusus bagi Driyarkara yang menekankan subyek sebagai persona yang senantiasa mengada bersama yang lain, bukannya relasi yang ingin menaklukkan atau menindas.

Dengan mengulas Malebranche, Driyarkara mengingatkan kita bahwa pengetahuan dan pendekatan ilmiah tidak cukup untuk mengerti totalitas dan misteri hidup itu sendiri. Apa yang dialami, dihayati, dan dicari manusia jauh melebihi apa yang bisa disajikan oleh logika murni dan penjelasan ilmiah.

Dalam hal ini tampaknya Malebranche mendahului Kant dalam melakukan kritik terhadap akal murni. Keyakinan dan kerinduan kepada Tuhan tidak cukup dengan mengandalkan logika ilmiah karena wilayah logika ilmiah selalu dibatasi oleh masukan dan wilayah empiris. Misalnya prinsip-prinsip moral yang selalu diperjuangkan manusia sepanjang sejarah, seperti kebebasan, harga diri, keadilan, dan perdamaian, semuanya masuk wilayah eksistensial yang ilmu pengetahuan positif tidak mampu menjelaskan.

Oleh karena itu, persona dan dunia tempat manusia menyejarah pada dasarnya sudah berada dalam wilayah keberadaan alam dan Tuhan itu sendiri. Manusia mencari dan membangun jati dirinya di dalam dan bersama keberadaan hidup itu sendiri, yang semuanya berada dalam kuasa ilahi. Jadi, keberadaan Tuhan yang menjadi sumber dan akhir hidup manusia yang selalu dicari sepanjang sejarah manusia sesungguhnya sangat dekat dan jelas, tetapi sekaligus juga merupakan misteri yang sangat sulit dijangkau.

Dalam hal ini, yang namanya kebodohan adalah situasi yang menutup kedekatan manusia dan Tuhannya. Pengetahuan akan kebenaran secara langsung dilihat sebagai kesatuan dengan Allah, sedangkan kesalahan merupakan keterpisahan dari tujuan terakhir, yaitu Allah. Memiliki kebenaran berarti memperoleh kebahagiaan, dan kesalahan adalah sumber kesusahan (halaman 1403).

Menurut Malebranche, hanya ada Allah sebelum semesta ini diciptakan, dan semua realitas ini keluar dari ide-Nya. Dengan demikian, sesungguhnya semua realitas semesta ini ada di dalam Allah. Manusia, ibarat ikan, berputar-putar mencari lautan, padahal dia sudah berada dalam lautan.

Secara pribadi saya menjadi semakin memahami mengapa sosok Driyarkara lalu diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dengan kedalaman ilmunya dan juga pandangannya yang visioner, bermunculan pemikir-pemikir tangguh di bidang filsafat, agama (Katolik), dan kebudayaan dari STF Driyarkara. Kebertuhanan, keberperikemanusiaan, dan keberindonesiaan begitu kental mewarnai buku ini, yang semuanya memiliki nuansa dan spirit kata kerja, bukan kata benda, atau rumusan kognitif-formal.\

 

Indahnya Pancasila Di Mata Driyarkara

Oleh: Z Asuko

Driyarkara adalah seorang pastor dari Serikat Yesus. Seorang rohaniwan Katholik. Nama lengkapnya Nicolaus Driyarkara, SJ, sedang nama kecilnya Djentu (1913-1967). Ia pernah menjadi Rektor Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Sanata Dharma Yogyakarta. Beliau adalah asli putra Purworejo.

Selain sebagai seorang rohaniwan, Driyarkara dikenal sebagai ahli filsafat. Sekalipun diakui bukan seorang filsuf yang orisinil. Tepatnya ia adalah seorang pribadi dan guru yang istimewa. Keistimewaannya terletak pada kesungguhannya menggali pikiran-pikiran para pemikir besar. Maklum, hidup rohaniwan Yesuit ini diabdikan untuk membaca dan mendalami para pemikir besar, khas seorang pendidik yang bertanggung jawab dengan disiplin ilmunya.

Dengan serius, Driyarkara menggali, mengupas selapis demi selapis, dan merumuskan substansi buku dari banyak aliran pemikiran universal yang ia baca. Istimewanya, pada saat bersamaan, ia menggumuli persoalan lokal bangsa Indonesia. Ia menelusuri sejarah dan akar-akar terbentuknya bangsa ini. Setiap pemikiran dan ideologi yang menyumbangkan konstruk bangsa ini dipelajari dan dicerna. Dari sinilah, secara serius Driyarkara mengembangkan pemikiran filsafat Pancasila. Sebuah filsafat yang bisa dibilang orisinil dari Driyarkara.

Filsafat Pancasila Driyarkara inilah yang menampilkan segi keindahan dari Pancasila. Di mata Driyarkara, Pancasila adalah rumusan realitas dasar manusia yang ada bersama cinta kasih. Tentunya bila itu dipandang secara keseluruhan dan keterkaitan antarsila. Dan, inilah keindahan Pancasila di mata Driyarkara. Keterkaitan antarsila yang dipandang bersama. Bagaimana caranya? Untuk memandang keterkaitan antarsila itu?

Titik tolaknya adalah filsafat manusia. Filsafat yang memandang keberadaan manusia di dunia sebagai pribadi (persona). Karena manusia berada di dunia, maka dunia diartikan sebagai kondisi eksistensial. Dalam dunia, manusia terhubung dengan alam materi dan manusia lain, serta hal itu dipahami dalam hubungannya dengan Yang Mutlak.

Ketiga hubungan tersebut -manusia dengan alam materi, manusia dengan sesamanya, manusia dengan Tuhan- merupakan kesatuan berdasar cinta kasih dari dan kepada Tuhan. Cinta kasih itu bukanlah rasa romantis sesaat, tetapi pengertian yang muncul dari pengalaman mendalam dan bila disadari betul dapat membentuk diri dan yang lain. Ringkasnya cinta yang menyempurnakan. Cinta kasih ini primer dalam hidup manusia. Dari sinilah kemudian dapat dilihat kait-mengait antarsila, yang akhirnya sila Ketuhanan sebagai dasar semua sila.

Titik tolak refleksi Driyarkara adalah sila kedua. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Inilah sila tentang perikemanusiaan. Sila ini menunjukkan realitas yang dialami manusia sebagai ada bersama dengan nilai cinta kasih. Menghormati, menjunjung tinggi sesama manusia.

Bagi Driyarkara, sila kelima, Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia tidak lain merupakan isi dari perikemanusiaan itu sendiri. Melalui sila keadilan sosial, perihal membuat, memiliki, dan menggunakan barang-barang dunia (material) memang ditujukan sebagai syarat, alat dan perlengkapan hidup manusia secara bersama-sama.

Sementara itu, sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan/ Perwakilan sejatinya merupakan bentuk dari perikemanusiaan. Melalui sila demokrasi ini, nyatalah bagaimana mengadakan kesatuan-karya dengan saling menghormati dan menerima sesama sebagai pribadi dengan segala hak dan kewajibannya.

Sila ketiga Persatuan Indonesia yang berbicara kebangsaan menjadi spesifikasi dari perikemanusiaan. Artinya, melalui proses membangsa, kesatuan dalam hidup menegara yang saling membantu dan memperkembangkan unsur-unsur yang beragam menjadi nampak. Akhirnya, sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa tidak lain merupakan dasar dari semua sila. Melalui sila ketuhanan ini, kita diajak menyadari keterbatasan diri, ketidaksempurnaan diri dalam hidup sehari-hari.

Implikasi dari kelima sila ini cukup besar, karena ide-ide asasi yang terkandung dalam tiap sila bersifat universal. Maka dari itu, Pancasila dengan dalil-dalil filosofis yang bersifat universal ini pun dapat diterima oleh semua orang. Rumusan filsafat manusia berdasarkan Pancasila ini akan menjadi pendirian hidup (Weltanschauung) apabila dilakukan dengan kesungguhan hati.

Itulah keindahan Pancasila di mata Driyarkara yang memandang keterkaitan antarsila. Segi lain yang menarik dari filsuf Pancasila ini adalah bahwa sebagai dasar negara, Pancasila, memiliki arti khusus bagi bangsa ini. Masyarakat di luar Indonesia tidak dapat menjadikan Pancasila sebagai dasar negaranya, karena tidak terikat dengan ketentuan Undang-Undang Dasar (UUD).

Masih menurut Driyarkara, sebagai dasar negara, Pancasila memiliki pendirian yang tetap. Pancasila menjadi alasan negara ini berdiri. Pancasila bagai kompas yang menunjuk ke mana bangsa ini melangkah. Tapi, kompas itu tidak menyajikan rincian praktis, sehingga Pancasila dapat disebut sebagai ideologi terbuka.

Karena Pancasila adalah dasar negara, maka ia menjadi dasar hidup berbangsa, bermasyarakat, serta bernegara. Artinya, ia menuntut sikap hidup, baik bersama maupun pribadi. Secara lebih luas, karena dasar negara berhubungan dengan UUD 1945, Driyarkara menegaskan, tujuan yang tercantum pada UUD 1945 adalah kesejahteraan bersama, dan kesejahteraan ini dasarnya adalah ketuhanan.

Atas dasar pemahaman itulah, maka negara yang berdasarkan Pancasila bukan negara agama, bukan pula negara profan. Lebih dari itu adalah negara yang mengutamakan kesejahteraan umum, dengan tetap menghargai kesucian hidup yang mengarah pada Tuhan. Pemilahan wilayah antara agama dan negara akhirnya memang diperlukan dalam gerak tersebut.

Selamat hari jadi Pancasila yang sungguh indah.

 

source: Komarudin Hidayat, seword, Tedy Kholiludin, elsaonline, STF-Driyarkara