Ekspresi

FENOMENA BEDAH SUWANGAN

Oleh: B. Soewiryo

Cerita turun temurun terkait misteri air Sungai Bogowonto yang tidak boleh membasuhi kulit keturunan Mataram tidak sekedar mitos tapi ril fakta.Nome.

Beberapa contohnya:

> Pangeran Diponegoro konon menyebrang sunagi Bogowonto disaat menuju Kota Magelang menemui  Jenderal  De Koc?

> Ki. Imam Mukhalam dari Dukuh Wonoganggu di
dorong paksa oleh pasukan kompeni menyebrang sungai Bogowonto?

Kedua Petinggi Mataam itu, pada akhirnya mudah di ringkus Belanda. Keduanya melalui tipu muslihat yang curang dan super licik. Ada peran pribumi yang kepincut hadiah dan mengurbankan figur pejuang?

***     ***     ***

Entah dahulu siapa petinggi Mataram yang pertama kalinya menghindari air Sungai Bogowonto. Tetapi ada cerita menarik yang masih perlu di riset ulang terkait fenomena alam Bedah Suwangan ini.

Dikisahkan pada tahun 1677, kekuasaan Mataram jatuh ke tangan Pangeran Trunojoyo. Amangkurat l, menyingkir ke arah barat seperlunya minta bantuan kompeni dan meninggalkan Kotaraja bersama beberapa istri, beberapa petinggi Mataram dan anak sulungnya bernama Pangeran Adhipati Anom.

Konon cerita Simbah :

Sampailah rombongan Sultan di tepian brang wetan sungai Bogowonto, disini Sultan tidak memerintahkan prajurit membuat perahu getek untuk menyeberang, justru rombongan di intruksikan berjalan menyusuri tepi sungai menuju ke muara.

Diseberang timur delta Pasir Mendit rombongan diperintah membuat pakuwon, semacam kemah sementara disekitaran hutan dekat muara Bogowonto.

Rombongan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan menunggu terbentuknya pasir laut yang akan membentuk tanggul pasir sehingga tanggul tersebut bisa menjadi sarana penyeberangan rombongan hingga sampai di barat sungai, atau delta pasir Mendit, kulit kaki tidak terbasuh air sungai.

Tanggul itu kemudian oleh Sultan dinamakan Tanggul Suwangan.  Ini fenomena alam yang terjadi satu tahun satu kali, yaitu pas tepat bulan purnama pada saat musim ketigo (kemarau).

Kelak mendekati musim hujan tanggul Suwangan ini, oleh kekutan alam juga akan bedah.  Air sungai Bogowonto akan tersedot ke Lautan Hindia sehingga muara akan menjadi kering, dan saat itulah waktu yang ditunggu-tunggu masyarakat sekelilingnya untuk memanen ikan yang dahulu konon sampai berton-tonan.

Rombongan Sultan menyeberang, kemudian berjalan ke arah utara dan beberapa hari kemudian sampailah di pemukiman yang waktu itu sudah ada nama Dukuh Jenar.

Di pedukuhan Jenar ini Sultan Amangkurat l dan rombongan istirahat lama. Semua Raja Mataram adalah muslim, maka ketika Sultan melihat ada bangunan kosong, beliau minta kepada Kepala Dukuh agar  rumah kosong itu bisa sebagai tempat sholat. Setelah disetujui oleh Petinggi Dukuh, Sultan Amangkurat l memerintahkan agar membuat sumur untuk air wudhu dll.

Nah, sampai saat ini rumah itu masih ada. Sekarang yang diistilahkan oleh warga Jenar dan umumnya masyarakat Purworejo disebut Masjid Tiban.

Beberapa waktu kemudian rombongan Sultan menuruskan perjalanan ke arah barat menuju Batavia. Namun sesampainya di hutan yang mempunyai tegalan kosong dan luas, kondisi kesehatan Amangkurat l menurun dratis sehingga meninggal sebelum sampai Batavia.

Amangkurat l dikubur di daerah itu, sebelum beliau meninggal memerintahkan kepada Pangeran Adipati Anom yaitu :

  • Andai kelak Amangkurat l meninggal disini agar jenazahnya dikuburkan disini, dan daerah ini agar di berinama Tegal Arum.
  • Putra mahkota Mataram yang sempat di copot, dikembalikan kembali kepada Adipati Anom, selekas kembali dan merebut Mataram dari tangan Pangeran Trunojoyo.

 

picture: kayaking jogja:bogowonto

 

About the author

pronect

Add Comment

Click here to post a comment