Ekspresi

Gemuruh Teater Rakyat Di Hati Simon Masih Deras

Simon HT Tambunan masih tetap sunyi dan hening. Pun toh, di tahun kemarin, terbitnya “ Hursa” itu pun karena desakan sahabat-sahabat dekat atau juga semesta yang menginginkannya?

Jebolan Filsafat UGM Yogyakarta ini memilih jalan seperti sekarang ini bukan hanya dari kemarin sore saja. Walaupun toh Simon tetap bergerak sendiri, cahaya kecil ini tetap ada di hati para sahabat sejati, sejawat di Yogyakarta ataupun para pembaca budiman yang mengalami periode sastrawi dan para aktivisnya di tahun 1970 akhir.


Simon HT Tambunan, yang kala itu aktif di Teater Dynasti Yogyakarta, menulis dan membaca beberapa sajak, serta berbagi sastra di ruang-ruang, atau titik simpul Kota Yogyakarta kala itu.

Kemudian, di tahun 1990 awal, Simon melesat jauh ke dalam bumi. Tak terlacak bahkan tiada terprediksi di mana gerangan, dan kenapa dia memilih menepi dari jagad sastrawi yang memang adalah darah dan suara hatinya?

Terlalu berlebihan kiranya opini ini. Seperti Cak Nun bilang di beberapa sambutan dan testimoninya tentang sahabat karibnya ini.” Lha Simon itu memang seperti itu, tak penting dia di anggap penyair, sastrawan atau pun sematan apapun yang mengidentifikasikan sosok Simon Hasiloan Tambunan.” tegas Mbah Nun.


Tapi tanda cinta, apresiasi, rasa sayang yang tak pernah luntur kepadanya terus tetap bergulir. Mulai dari Butet Kartaredjasa, Halim HD, Novi Budianto, Eko Winardi, Joko Kamto dll masih menyalakan api cinta itu dengan membacakan sajak dan karya Simon di berbagai kesempatan.

Teater Rakyat Adalah Kaki Tangan Simon
Ia sekarang memang aktif dan berdomisili di bilangan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Aktif di sebuah lembaga swadaya yang mengurusi petani, nelayan dan rakyat-rakyat pinggiran di senatero negeri. Sembari sesekali pulang kampung ke Yogyakarta.

Di temani beberapa “ adik-adik” asuhnya yang sekaligus kolega nya seperti Lucky Rendra Wijaya, Triyanto Purnama Adi dan lainnya. Sosok yang pernah mengenyam pendidikan teater di PETA Filipina sama dengan Emha Ainun Najib, Wiji Tukul dan Fred Wibowo ini juga salah satu penggagas puisi esai di tahun 1982 akhiran.

Dengan cakrawala nya yang terbentang luas, pergulatan dunia batinnya yang jauh dari keramaian banyak orang, Simon mampu memberikan oase, peneduh jiwa dan harapan untuk jutaan saudara-saudaranya yang berada di pinggiran.

Kini Simon HT Tambunan masih sedikit mencoba menyalakan api-api rakyat itu dengan kekhasannya. Berkeliling Cianjur, Ujung Kulon. Untuk meraba-raba dan menerawang apakah “ janin teater rakyat” itu kemungkinan bisa hidup  di sana.

Simon tetap dengan pertanyaan yang sama, jika bertemu dengan penulis. Tiada jemu dan tak bosan,..
Bagaimana kabar Bagelen?
Bilamana jika ada teater rakyat di sana?

photo: Odi Shalahuddin, Lucky, Simon