Idea

Identifikasi Aksi Riil & Mendorong Jadi Kegiatan Bisnis Berskala Ekonomi di Purworejo

Oleh: Dr. Totok Hari Wibowo

Sebuah jurus ngeyel. Silahkan check link ke desa Krebet atau Karebet di Kabupaten Bantul, kenapa dia jadi unggul, kenapa di pihaki oleh banyak pihak, padahal aslinya adalah tempat ngumpulnya bromocorah dan para bajingan.
(Ojo salah, bajingan ini adalah sais gerobak sapi lho,) Dan istilah budaya lainnya. Saya akan cerita saja lho, bukan bermaksud mempromosikan.

Satu hal layak catat dari Desa Krebet, Bantul  adalah modus atau context yang kokoh dan inisiatif untuk maju yang kuat. Mereka tidak memulai dengan wacana pariwisata atau subsektor ekonomi lain secara khusus karena memang mereka tidak punya.

Di awal mereka lebih fokus pada upaya menemukan nilai atau potensi diri yang kemudian disepakati adalah penguatan nilai gotong royong, demikian selanjutnya.

Satu lagi, siapapun yang pernah ke Manneken Pis, Belgia akan merasa kapusan, apalagi kalau sempat ke Coco Waterfall yang ternyata cuma grojokan. Tentu bukan seperti itu yang ideal tentang pemberdayaan (ekonomi) daerah.

Bedug Pandawa Purworejo sudah diketahui lama oleh umum karena ada dalam buku Himpunan Pengetahuan Umum ( HPU), tapi terbukti bedug saja, ternyata tidak mampu mengungkit ekonomi.

Sebaliknya, Krebet (maaf lagi-lagi) mampu mendatangkan turis bule yang tentu bayar, hanya untuk terlibat dalam renovasi rumah, kamar penduduk sehingga memenuhi standar fasilitas homestay atau belajar menari atau belajar gamelan atau bikin topeng batik atau sekedar berkontribusi mengajari anak-anak muda Desa Krebet, Bantul berbahasa Inggris, Belanda, Italia, Prancis, Jepang dan bahasa asing lainnya.

Apa beda (atau apa samanya) setting Purworejo yang Kabupaten dengan Krebet yang Desa? Apa karena beda skope membuat permasalahan jadi terlalu besar untuk di manage?

Ataukah karena context yang tidak membumi ataukah itikad yang lemah? Kita bisa menemukan weak link dengan mudah di berbagai tahapan dan di berbagai aspek yang membuat keseluruhan desain tidak bisa terselenggarakan secara sistemik.

Saya ikut orang tua yang asal Wingko Tinumpuk (Bapak) dan Piji Krajan (Ibu) hijrah ke Manokwari Papua, di tahun 1969, dan menghabiskan total 15 tahunan di pesisir utara Papua ini. Diaspora Purworejo ada di praktis seluruh pusat kehidupan di seluruh Papua di berbagai level sosial. Beberapa hal yang saya amati di antara diaspora Purworejo itu adalah kesamaan pemahaman tentang potret romantis Purworejo.

Ironinya, ada kesamaan lain, yaitu fakta bahwa mayoritas tidak berkeinginan pulang ke Purworejo karena ketiadaan masa depan. Ini pendapat yang praktis seragam dan unanim. Fakta lain adalah kesamaan hasrat dan keinginan pulang setelah memasuki masa tua atau pensiun.

 

Dalam kesempatan lain saat saya berkesempatan mengunjungi berbagai kota dan negara dan kebetulan bertemu diaspora Purworejo lain, secara garis besar dapat saya sampaikan bahwa mereka mengaminkan “temuan” saya itu.
Saya sebut temuan karena saya berkeyakinan Ibu atau Bapak sekalian dan teman-teman pun akan membenarkan assessment tersebut. Tak iyakah?

Nah, sekarang, sentimen yang kadung terbentuk seperti itu apa bisa bermanfaat? Saya melihatnya justru niche ini berpotensi membantu kita membangun context dan (rencana) aksi yang terarah: leisure, elderly home, service city, family value, (monggo ditambahkan).

Kalau poin ini dirasa cukup untuk dijadikan skeleton, langkah lebih lanjut adalah mengidentifikasi aksi riil ke depan yang masuk (atau bisa didorong masuk) ke dalam kegiatan bisnis berskala ekonomi. Dengan begitu Kabupaten Purworejo bisa menghindari pertarungan head to head dengan Yogyakarta misalnya, bahkan berpotensi membangun sinergi dengan inisiatif kota lain di sekitarnya. Monggo.