Idea

Indrata K Prijadi: “Pembangunan Purworejo Harus Mengkaji Aspek Sosiokultural”

Oleh: Indrata K Prijadi*

Mungkin, membiarkan Kabupaten Purworejo apa adanya adalah merupakan opsi lain. Menjadikannya kawah candradimuka warganya.

Karena kesejahteraan ini ibarat dua mata pisau, di satu sisi terlihat indah, di lain sisi membuat warganya terlena, tidak lagi mempunyai jiwa survival yang tinggi layaknya saat ini.

Pemuda yang duduk di samping Pak Dwiono Hermantoro adalah contoh kecil, mengenai tekad mahasiswa ini untuk melanglang buana dengan “Hubungan Internasional”nya, setelah lekas selesai akademiknya di Yogyakarta.
Karena bila tetap di Purworejo, ritme kehidupan akan pelan.

Banyak orang-orang besar terlahir dari keterbatasan masa lalunya, bahkan Presiden Joko Widodo saja mengalami banyak trial dan tribulation kehidupan sejak kecil yang menjadikannya insan yang tangguh.
Merubah Kabupaten Purworejo menjadi selayaknya kota lain mungkin juga akan merubah pola pembentukan warganya.

Kita tidak tahu, mungkin ini sudah menjadi kutukan atau dedoa para leluhur agar Purworejo tidak menjadi kota yang terekspose, namun menjadi penghasil orang-orang hebat. Keterbatasan itu menguatkan. Menangguhkan.

Begitulah kenyataan hidup. Inconveniencing truth. Tidak adil buat yang tidak memahami. Selalu ada efek lain dari pembangunan.

Tatanan masyarakat Purworejo bisa saja berubah, bila terjadi pembangunan masif menjadikan Purworejo seperti kota-kota lainnya, tanpa mengkaji aspek sosio-kultural yang sudah terbentuk sekian lama.

Pembangunan ini akan menciptakan agent of distractions buat anak-anak kita. Saya jadi mengingat pesantren anak saya di pelosok Kediri sana, jangankan mall, cafe atau XXI, jaringan telepon atau internet saja susah di dapat.

Kehidupan masyarakat sangat jauh dari keramaian. Tapi banyak orang berhasil dilahirkan dari sana.
Ingat masa kecil saya, TV adanya hitam putih, biar kelihatan berwarna kita pasang screen berwarna pelangi.

Aturan orang tua TV dimatikan dari jam 7 sampai jam 9, dimana jam 9 adalah tontonan wajib “Dunia Dalam Berita”. Tidak banyak tontonan distraction sinetron atau FTV tidak mendidik.

Bacaan asyik kita adalah buku HPU (Himpunan Pengetahuan Umum) dan HPA (Himpunan Pengetahuan Alam). Belum ada HP dan internet yang tidak bisa memilah info yang bisa kita terima, yang merupakan biggest distraction ever.Di sanalah salah satu pemacu dan pemicu nilai akademis kita bisa tinggi.

Akhir kata, untuk Purworejo, Loano daerah asal moyang saya semoga semuanya baik-baik saja kedepannya.

 

  • Diaspora Indonesia di Kanada selama 12 tahun. Alumni dari STP Bandung, Universitas Winayamukti ini ialah Founder dari Javanese Network & berpengalaman di hospitality.