Ekspresi

Jendela Romansa Brengkelan 70an Dari Sudut Pintu Bekasi

Oleh: Budi Wasono ( Kota Bekasi)

Menyusuri jalanan   pagi itu terasa sepi.  Jalanan terasa lengang.  Tidak seperti jalanan di kota yang setiap pagi selalu sibuk dan macet  saat jam kantor, saat orang saling berebut untuk menuju ke tempat kerjanya.   Ini adalah cerita sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Purworejo. Sebuah kota dibarat kota Jogjakarta  kurang lebih 60 km atau sekitar satu setengah jam perjalanan dari Jogja.

Selepas dari nyekar ke makam orang tua dan para leluhur di komplek TPU Brengkelan , kubiarkan kaki melangkah  menyusuri Jalan Veteran.  Dulu disini ada pasar hewan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Keboan. Karena setiap hari minggu pasar hewan  ini buka dan banyak diperjual belikan hewan kerbau atau kebo.

Sebetulnya  tidak hanya kerbau saja, setiap hari minggu disana juga diperdangkan sapi , kambing juga hewan peliharaan lain seperti  burung dan kelinci.  Sekarang di lokasi pasar hewan itu telah berderet bangunan ruko yang entah apa sebab disebut Plaza, orang orang  sekarang menyebut lokasi itu sebagai Purworejo Plaza.

Sejenak berdiri dipinggir pertigaan deretan bangunan ruko di bekas pasar hewan itu, teringat dulu diseberang sisi selatan ada tukang pande besi.  Sebuah bangunan kecil sederhana dengan peralatan yang minim  sekedar tungku api  dan tabung dari kayu untuk memompa api. Tukang Pande besi itu biasanya   membuat atau memperbaiki peralatan pertanian seperti cangkul, sabit atau alat yang lain.

Dari pertigaan di bekas lokasi pasar hewan,   lanjut mengikuti  langkah menyusuri jalanan ke arah selatan, menuju jalan Ahmad Dahlan. Di ruas jalan ini masih berdiri  satu bangunan lama,  bangunan gedung yang tampak kokoh  adalah salah satu sekolah Tionghoa ( Hollandsch Chinese School) di jaman pra kemerdekaan.

 Maka tak heran bila bangunan sekolah itu oleh warga sekitar  disebut Sekolahan Cino.  Sayang  sekali bangunan yang kelihatan gagah itu , dengan pintu dan jendela yang besar  telah dikembangkan  tanpa  sentuhan arsitektur yang memadahi.  Mungkin apabila saat pengembangan itu  melibatkan pihak yang paham akan arsitektur atau sejarah kota cerita akan menjadi berbeda.  Keberadaan bangunan itu sebagai potongan artefak perkembangan kota masih terjaga  dengan baik.

Kearah selatan sedikit dulu ada bangunan gedung bioskop Pusaka, sebuah bangunan yang juga pernah dipakai sebagai tempat pementasan Wayang Orang. Dan saat ini telah berubah menjadi sebuah Toserba.  Di lokasi gedung bioskop ini dulu merupakan salah satu titik keramaian, dimana saat itu bila selepas maghrib suasana kota menjadi sepi. 

Diseputar Gedung bioskop ini  setiap malam kita bisa temukan orang jual bakso, wedang ronde, kupat tahu, martabak,  penjual buah  juga kacang. Kadang di depan gedung bioskop kalau malam ada penjual obat dimana untuk mengundang pembeli dengan atraksi sulap dan ada juga yang menggelar beberapa mainan.

Diseberang gedung bioskop Pusaka ada area terbuka dikenal dengan sebutan pasar kongsi. Disana sebagai tempat pangkalan Dokar ( delman), pedagang pakaian, ada juga pedagang burung merpati. Setiap sore selalu ramai dengan atraksi lomba burung merpati atau yang dikenal dengan sebutan Thomprang.

 Beberapa burung merpati dilepas dari jarak sekitar lima kilometer   atau lebih dan dinilai dari yang pertama turun menginjak tanah. Dipasar kongsi ini setiap minggu juga akan ramai oleh para pedang hewan , ada ayam, kelinci  tentu saja burung merpati. Penjual obat pun juga ikut menambah keramaian bahkan ada juga yang jual nomer  ( angka) buat tebakan judi nalo, belakangan disebut SDSB.

Di tengah Kawasan pasar kongsi ini sekitar tahun 70 an ada reruntuhan  bangunan Gedung yang cukup besar, konon bekas  tempat organisasi perhimpunan orang Tionghwa.  Sayang bangunan itu tak terawat. Didalam kawasan pasar kongsi ini juga dulu ada tempat penyewaan komik. Masa jayanya serial  Nogo Sosro Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh  atau Kho Ping Hoo ikut meramaikan kawasan Pasar Kongsi ini. Namun saat ini Kawasan kongsi yang dulu merupakan area terbuka, sekarang sudah berubah.  Saat ini menjadi bangunan pasar yang menyatu dengan pangkalan angkutan.

Menyusuri sepotong jalan di kota kecil Purworejo  walaupun hanya sesaat telah membangkitkan begitu banyak  kenangan . Tak terasa matahari sudah bertengger tepat diatas kepala, panas siang itu seolah mengingatkan sudah waktunya mengisi perut.

Rasanya perjalan ini tak akan lengkap bila tak disertai menikmati kuliner yang ada. Dari pasar kongsi menyebarang jalan ke timur ada Pasar Baledono, disana ada berbagai pilihan makanan juga minuman. Kupat tahu jadi satu pilihan dan dawet campur cincau asli yang segar melengkapi makan siang yang terasa begitu nyamleng.

photo: Poerworedjo Djaman Doloe & Ah Nangim, Sylvia Asih A

About the author

pronect

Add Comment

Click here to post a comment