Idea

KARYA SENI DI RUANG PUBLIK PURWOREJO?

Oleh: Hanafi Muhammad

Karya seni di ruang publik adalah pengembangan wacana dari semula disebut patung, tugu penanda suatu wilayah, monumen dan “signed” atau penanda.

 Kembali kita membicarakan patung-patung yang tersebar di kota kita. Kemudian kita menemukan Pakde, Pakde yang saya kenal baik punya nama asli Heri Krusdianto tinggal di Jogjakarta.

 Saya pernah bekerja bersama Pakde ini untuk sebuah patung di Ende Flores. Ya, patung sang proklamator Ir Sukarno.

 Ternyata yang membuat patung-patung di kota kami Pakde, mudah mudahan Pakde yang disebutkan Mas Angko adalah Pakde yang sama dengan Pakde Heri Krusdianto yang mana adalah teman saya sendiri.

 Tetapi yang patung yang mana dari sekian patung yang ada di kota kami yang dibuat oleh Pakde, saya tidak mengerti. Saya bisa segera tahu.

 Pakde adalah seorang visualizer kalau tak bisa saya sebut seorang artisan. Kita tahu bahwa sebelum dimulainya pekerjaan patung ada sebuah gambaran, gagasan, dan konsep yang dapat dipaparkan.

 Berpijak di atas alasan dan landasan berpikir yang kuat. Penggagas ide tidak bekerja hanya sampai di sini saja, tetapi turut mengontrol dan mengawasi dan mengembangkan kemungkinan kemungkinan yang sangat mungkin terjadi di lapangan sampai ke tahap akhir penggarapan. Kalau tidak, karya itu akan kehilangan pesonanya sendiri.

 Tetapi sebuah pesona sering bukan sebuah hal yang mudah dibuat. Dalam kerja patung, art object, tugu gapura, atau karya seni di ruang publik diorientasikan untuk publik, pesona adalah “pancaran” dari ruh penciptaan yang memiliki kandungan kaidah kaidah penciptaan seperti kuatnya gagasan, pemilihan bahan, posisi dan ketepatan peletakan di mana karya itu harus berdiri.

 Berdiri untuk selama-lamanya, berdiri untuk sementara sebagai karya sebuah pameran berkala, tentu semua itu menjadi berbeda.

 Apabila karya itu diharapkan berdiri selama lamanya semestinya seorang kreator lebih sungguh-sungguh dalam berkreasi. Alih-alih mengembalikan hak publik akan sebuah keindahan.

 Perunggu. Mengingat jika mungkin dibuat hanya sekali. Punya “gengsi” sedikit kenapa?

 Orientarsi saya ke “perapihan” tata kota sendiri bukan tidak dipicu dari kekhawatiran berupa: Saat saat belum lama ini beredarlah WW panggilah begitu, seorang yang menawarkan pendirian patung- patung di berbagai kota.

 Proyek, dan kelompok kerja ini mampu menalangi dulu dana besar untuk hal ini. WW kerja tanpa konsep yang jelas, kereta kencana misalnya, kuda meringkik, wajah-wajah tokoh kota setempat. Jangan WW!

 Betul, itu jalan terus ke kota kota kabupaten. Biasanya mereka ber 10 orang. Dan WW ini bisa mengerjakan 2, 3, 4 patung sekaligus di tempat berbeda dalam waktu yang sama. Bisa saja kota kita sudah ada didaftar incaran maut WW.

 WW mengambil lubang arus dana pemerintah dengan alibi karya seni mahal, padahal WW merampok dengan cara konyol, patung semen yang gampang gompal.

 Mencoba menelusuri gambaran di kepala, sebenarnya tidak banyak karya patung publik bagus. Patung Pancoran dapat dijadikan rujukan.

 Pemilihan bentuk yang membuat sebuah patung terkesan bergerak menjadi capaian yang menarik.

 Ini Wage Rudolf Soepratman hanya memegang stick, biolanya tidak ada…

 Sebenarnya karya seni di ruang publik dapat saja berupa gejala bentuk, bukan bentuk jadi yang lengkap.

 Sungguh tidak menjadi persoalan jika patung Wage Rudolf Soepratman tampil di ruang publik tanpa ada biola kesayangannya sebab, biola dan dirinya sudah menjadi satu dalam jiwa “patriotisme” nya.

 Dan sebenarnya selain kita ingin mengenangnya tetapi juga ingin hal-hal yang artistik ada di kota kita.

 Saya ulangi, apa sebenarnya artistik itu. Banyak dan salah satu yang banyak itu bahwa yang artistik itu tak habis saat kita lihat.

 Sebab yang tampak tak selalu seperti kelihatannya. Sisi lain kita bisa mendatangkan sesuatu yang tampak dengan cara sesuatu yang tidak ada.

 Tetapi alasan tidak memakai kupluk seperti Bapak Wage Rudolf Soepratman tidak bisa begitu. Alasan utamanya: kita meminjam spiritnya saja, dan imajinasinya bahwa jiwa bapak Wage Rudolf Soepratman Indonesia Raya.