Idea

Kebudayaan Bagelen Agung & Perkasa

Oleh: Martinus Dwi Nugroho, MA.

Berbicara tentang kebudayaan, pastinya kita akan membahas tentang produk hasil cipta, karsa dan karya manusia. Salah satu hasil karya manusia adalah arsitektur. Dan kawasan yang akan dibicarakan dalam edisi ini adalah arsitektur masyarakat Bagelen.

Masyarakat Bagelen merupakan masyarakat yang unik, baik dilihat dari struktur masyarakatnya ataupun arsitekturnya.

Bagelen pada tahun 1830 merupakan Karesidenan baru yang dibentuk pemerintah kolonial Hindia Belanda. Wilayah ini adalah bekas milik Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta yang jatuh ke tangan Belanda melalui perjanjian antara Belanda dengan Sunan dan Sultan pada tanggal 22 Juni 1830 yaitu setelah berakhirnya Perang Diponegoro 28 Maret 1830.

Selanjutnya Karesidenan Bagelen sejak 1 Agustus 1901 dihapuskan dan dimaksudkan ke dalam wilayah Karesidenan Kedu, namun dalam mulut rakyat rupa-rupanya Bagelen tetap dipisahkan dengan Kedu.

Ketika masih berstatus Karesidenan, Bagelen terdiri dari afdeeling Purworejo dan Kebumen, serta afdeeling (kemudian jadi regentchap) Wonosobo. Sedang pada Kerajaan Mataram yang dimaksud dengan Bagelen adalah afdeeling Purworejo dan Kebumen saja.

Karena Wonosobo yang dahulu terdiri dari daerah Ledok dan Guwong rupanya tidak termasuk dalam wilayah Bagelen. Bagelen rupanya merupakan salah satu daerah yang memiliki cara pembagian wilayah menurut konsep moncapat (corak magis empat lima yang mengandung empat mata angin dan pusatnya sebagai aturan administratif kuno maupun awal-mula mikrokosmos).

Sampai pada sekitar 1950-an di daerah Bagelen masih ditemukan adanya kesatuan-kesatuan administrasi terdiri dari lima desa yang disebut glondhongan. Konsep moncapat ini sesuai dengan pola kebiasaan dan cara pandang spiritual khas Jawa yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bagelen, yakni ajaran akan papat kiblat lima pancer.

Secara harfiah, ajaran tersebut bermakna empat arah mata angin dan satu pusat, yaitu diri. Ajaran ini membantu Komunitas Bagelen selalu menjaga keseimbangan hidup sehingga selalu terhindar dari pageblug (pandemik), bencana, dan bisa hidup berdampingan dalam keragaman masyarakat

Ciri logat Banyumas berkembang di Bagelen yang dipengaruhi logat Yogya-Sala dan tradisi agama pesisir. Di dalamnya berkembang bentuk-bentuk organisasi sosial kuno, upacara-upacara ritus kehidupan, ceritera-rakyat dan kesenian yang khas. Sehingga dapat dikatakan bahwa Bagelen merupakan potret akulturasi budaya Islam Jawa.

Masjid yang didirikan pada tahun 1618 ini berarsitektur tradisional Jawa dengan atap tajuk tumpang satu. Konstruksi kayu serta Gonjo Masjid Santren sama dengan yang ada di Masjid Menara Kudus dan Masjid Kajoran Klaten.

Masjid ini terletak di kawasan yang cukup rindang, ±400 m dari jalan utama melalui jalan tanah yang tidak begitu lebar ± 3 m. Tidak ada sign system yang menunjukkan bahwa di situ terdapat masjid yang sangat bersejarah. Belum adanya perhatian dari pemerintah daerah menjadikan kawasan disekitar masjid ini belum tertata dengan baik.

Berbeda dengan masjid Jawa pada umumnya yang dikelilingi pagar, masjid ini tidak dikelilingi pagar. Justru masjid ini dikelilingi oleh makam-makam leluhur.

Kenthol adalah gelar bangsawan setempat di Bagelen. Dipilihnya rumah tinggal Kenthol karena dalam susunan ruang pada rumah bangsawan lebih lengkap dari rumah – rumah orang biasa.

Salah satu kenthol yang ada di Bagelen dan masih memiliki rumah tradisional adalah Bapak R. Sunarto. Rumah beliau berdekatan dengan petilasan Nyai Bagelen.

Masyarakat yang ingin ”berkunjung” ke petilasan Nyai Bagelen harus meminta ijin pada Bapak R Sunarto. Suasana sejuk karena dikelilingi pepohonan yang rindang menjadikan suasana rumah menjadi adhem ayem.

Menurut Bapak Sunanto, rumah yang beliau diami adalah tipe rumah joglo beratap Brunjung dimana atapnya tetap dipertahankan. Rumah ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu depan, tengah dan belakang.

Ruang Depan terdiri dari pendopo dan pringgitan yang lebih bersifat publik. Ruang Tengah terdiri dari Ruang Keluarga dan beberapa kamar tidur yang lebih bersifat semi privat. Ruang Belakang terdapat dapur atau orang Jawa menyebutnya Pawon yang bersifat privat.

Ada yang menarik pada pendopo ini. Terdapat umpak yang ukurannya lebih besar daripada umpak ruang tengah (dalem). Ini berbeda dengan umpak yang terdapat pada rumah Jawa pada umumnya yang mana ukuran umpak dalem lebih besar dari pada pendopo. Sehingga dapat diintrepertasikan bahwa ungkapan prestise pemilik rumah berada di ruang pendopo.

About the author

pronect

1 Comment

Click here to post a comment