Idea

Ketinggalan Atau Ada Yang Keliru Dengan Purworejo?

Oleh: Ir Krisno Pudjonggo ( Jakarta Utara)

Kenangan itu melayang disekitar tahun 1960, saat aku kecil sekolah di TK Widodo yang ruangnya menempel di pagar belakang bioskop Bagelen. SD Kontroliran sekolahku mempunyai jendela jati berukuran besar, lantainya mengkilat dan bangkunya seperti becak tak bisa rusak.

Adalah bekas bangunan Belanda dan juga gedung sekolahku SMP Negeri 2 Purworejo serta seluruh sudut kota semua bernuansa asitektur Belanda. Bahkan rumah yang aku tempati disebelah kantor Dinas Penerangan bertetangga dengan keluarga Belanda.

Anaknya bernama “Kurinche” sering memanjat pohon salam bersama sekedar untuk merasakan buah kecut manis kemerahan. Ada Bapaknya berjalan arah kerumah sekedar mau memeriksa septitank yang ada dihalaman belakang rumahku sambil mengatakan dengan bahasa Jawa, “Nyuwun sewu, bade ningali griyo wingking”. Belanda itu pandai berbahasa jawa karena ternyata mengajar sastra Jawa di Univ Gajah Mada.

Jika malam minggu terkadang mencari clupur yaitu jangkrik yang tak bisa ngerik ada dibawah tiang listrik disekitar alun-alun Purworejo atau main petak umpet dikejar sampai pasar hewan yang sekarang disebut namanya Plaza.

Bermain panggalan made in Mbah Harjo Pawiro yang tinggal dibelakang SMP 2 dan harus rela mengantri bergantian. Minggu pagi ramai-ramai lari pagi mengelilingi alun-alun berlanjut dengan jajan getuk ke pasar pagi Pantok. Jika bulan puasa sore hari kumpul didepan masjid Kauman sekedar melihat mercon “dunk” tanda buka puasa seiring gaung suara sirine dari tangsi tentara Batalion 412.

Suasana kota itu bentuk dan barangnya masih ada bahkan susunannya nyaris tak berubah. Jalan-jalan kota dan kampung yang ada di Brengkelan, Madyokusuman, Kedungkebo atau Plaosan tetap ada bahkan gardu listrik dipojok alun-alun sisi utara dimana dahulu merupakan tempat parkir oplet Pak Wongso Ayahanda dari Jenderal Ahmad Yani pun masih ada. Teringat tulisan huruf Jawa pada papan peringatan yang berbunyi “Sing dumuk mati”, ide kreatif orang-orang Belanda mengingatkan bahaya arus listrik.

Terkesan hingga sekarang tentang aliran air dari Kedung Putri yang dimasukkan dari pintu air didepan pabrik es dan mengalir ke arah tanggul air dibelakang kantor CPM atau Kodim, sebagian masuk ke tangsi melalui kampung Plaosan sampai jauh ke ujung daerah Kapelmen.

Sebagian lagi dialirkan kearah Rumah Sakit Tentara DKT menerus ke daerah sekitar penjara. Sebagian lain berbelok menuju kantor otonom menyeberang ke arah SD Kliwonan tetapi berbelok menuju Masjid dan berujung kebagian hilir kali Kedung Putri di daerah Kauman. Air itu masuk kembali ke kali semula setelah menggelontor sepanjang perjalanannya.

Sekarang ini apa kantor Dinas Pertanian masih mojok di daerah Sindurjan? Dinas Kehewanan masih tetap ada di Koplak dan kantor PU tetap ada di Kerkop kah? Bangunan Rumah Sakit Tentara yang dulu dikenal sebagai DKT – Dinas Kesehatan Tentara sudah tak layak, juga bangunan besar pejabat tentara dijalan utama kota masih tetap ada, walau bentuknya berwibawa tapi tampak temaram dan terkesan kusam.

Pemudanya dulu bergerak cair dan saling kenal diantara tempat tinggal saentero kota. Yang pinggiran jauh seperti Sumongari, Ngombol, Sangubanyu, Gebang, Bagelen atau yang lain semua bergaul oleh karena disatukan dalam sekolah yang sama dimana kota terdekat semisal Wates, Kebumen, Gombong, Salaman belum ada bentuk ujudnya.

Sebagian berlatih karawitan atau tarian Bagong Kusudiarjo dipendopo dalem Kabupaten atau latihan disiplin melalui drumband di sekolah masing-masing. Melalui olah raga digiatkan pertandingan kasti untuk SD, volley/basket ditingkat SMP dan sepakbola amatir yang dipertandingkan saat hari peringatan kemerdekaan disisi alun-alun sebelah timur.

Terkadang mencari sarang gelatik diatap pendek genting sekolah guru SGB di Jl Tanjung atau mencing serni (uceng) bersama teman-teman ke kali Bogowonto dan mandi di pancuran Kecacil sambil mencari jambu monyet yang rasa sepet itu.

Dalam lustrum SMA Negeri 1 Purworejo yang dihadiri oleh Bapak BJ Habibi tampak hadir mantan siswa berjumlah lebih dari 1000 orang disampaikan bahwa rata-rata sepertiga lulusan tiap tahun sekolah ini diterima di universitas negeri terbaik di Indonesia yaitu UGM Jogjakarta dll.

Kota ini dipenuhi asal daripada nama-nama tokoh Nasional semisal Ketua BPUPKI Kasman Singodimejo, WR Supratman, A Yani, Urip Sumoharjo, Sarwo Edi Wibowo, Rekso Samodro, Panuju dan terakhir ada mantan Menteri Erman Suparno. Namun Tak muncul dalam sejarah berdirinya kota ini nama besar Pangeran Diponegoro yang sangat terkait dengan berdirinya kota ini.

Terakhir ini kembali mencuat oleh kepulangan benda keramat berujud keris milik beliau dari Belanda. Benda tersebut ada dan dirampas bersamaan dengan ditangkapnya beliau di Kota Magelang pada tahun 1830 yang berangkat dari arah Bagelen melewati Loano, Salaman dan sampai di Magelang.

Hari lahir Purworejo pernah meloncat jauh ditahun 901 dan tak terkait dengan nama Bagelen yang legendaris, sebelum akhirnya digeser maju ke tahun 1834 melalui alasan berkelindan dari para ahli (katanya), diputuskan dengan mudah atas dasar mulainya pemerintahan kabupaten waktu itu .

Ketinggalan. Sepenggal kata yang menggambarkan keterbelakangan banyak hal di kota ini baik dalam arti visual maupun hakekat sosial pada umumnya. Tak ada banyak perubahan terjadi dikota ini kecuali maraknya kios-kios pedagang kecil di seantero sudut kota diatas tanah yang diaku milik tentara. Bahkan dikiri kanan tempat tinggal pribadi Bupati pun tak malu menjadi kios-kios ala kadarnya berderet deret “kios cukur” kelas bawah disebelah belakang.

Entah apa pula maksudnya tembok disudut bergambar jendela yang akan terlihat dari arah Masjid Kauman. Sebentuk tugu berbentuk gunungan dibangun ditengah jalan yang umurnya mungkin seumur patung WR Supratman diperempatan Pantok yang tak mirip foto dibuku pelajaran sekolah.

Sama adanya bahkan diantara bangunan megah milik tentara muncul warung-warung rokok ala kadar. Ini pula berkonotasi ketinggalan karena bentuknya yang tak terkonsep dan tidak memberi kontribusi keindahan kota sehingga terkesan kumuh dan tidak tertata.

Dibangunnya kembali pasar Baledono semegah itu berharap ada kemajuan yang dapat diraih tetapi menjadi kisruh karena kios tak laku dan apakah betul terkait dengan jalur angkot yang tak lewat? Muncul taman disekeliling alun-alun dengan ikon hasil bumi daerah seperti manggis, durian, kambing etawa, patung kereta Arjuna dll yang senyatanya bibit-bibit tanaman justru diambil dari Salaman bukan dari daerah pusat hasil bumi sekitar Kaligesing dan atau kambing etawa yang kalah gaungnya dengan daerah Sleman atau bahkan Blitar dalam hal budidaya susunya.

Kemana putra-putra terbaik yang telah lulus dari sekolah unggulan itu dan mereka tak ada geraknya menyapa pembangunan? Muncul kemudian istilah “kota pensiunan” karena stagnannya suasana kota. Sebagian merasa sebagai kota pejuang oleh karena munculnya tokoh dari mantan tentara, tetapi bukan oleh karena heroik tokoh perjuangan kemerdekaan tahun 1945.

Acara jumenengan tiap tahun tak memicu rasa kebangsaan justru inspirasi nasionalisme yang muncul oleh sikap Diponegoro tak disentuh untuk menjadi penyemangat. Tak ada ikon yang membumi dan perlu diketahui bahwa inspirasi Diponegoro mampu mengantarkan Indonesia merdeka terpakai sebagai inspirasi oleh pendiri bangsa yang semangatnya berasal dari tanah Bagelen.

Kantor Dinas Pemerintahan terserak mulai dari kantor Bapeda ada di Singodranan, Satpol PP di ujung utara, Dinas Kehutanan disisi timur dan ada pula bangunan besar diselatan alun-alun. Dibangun sendirian fasilitas terminal yang sepi ditengah sawah, juga GOR yang ngumpet tak semegah fungsinya dan juga kereta api yang tak mampu menyeret gerbong sampai ke stasiun KA.

Nanti semakin ketinggalan jika jalan Daendels  menjadi mulus sampai ke Kebumen dan Bandara Jogja Baru dapat ditempuh tanpa harus singgah dikota ini. Angkot tetap kosong dan ojek beroperasi dengan tarif seenaknya. Aneh jika alun-alun bisa banjir pada hal ketinggian muka air Bogowonto tak mungkin menyentuh kota.

Pasar yang tak jelas hirarkinya ada di Singodranan, muncul pula daerah perdagangan didepan bekas gedung bioskop Pusaka. Ada pula pusat perdagangan Kongsi sampai dengan Pande Kluih. Layak Baledono sepi seperti juga angkot Jurusan Kutoarjo yang sepi penumpang.

Ketinggalan semakin terlihat tapi aku harus berhenti.

Dan besok bercerita yang lain lagi dengan judul “Mungkin Ada yang Keliru”?