Idea

MAGNET INVESTASI DI KAB. PURWOREJO”

Oleh: Dibyo Sumantri Priyambodo

Kabupaten Purworejo saat ini sedang bermetamorfosis. Kota kecil yang biasanya senyap lantaran sebagian warganya adalah pensiunan “Amtenaar”, sehingga dapat julukan sebagai “Kota Pensiunan”

Namun akhir-akhir ini, rupanya telah gumregah. Beberapa waktu lalu telah dideklarasikan sebagai “Kota Pejuang”. Tidak berlebihan, karena memang banyak pejuang dan pahlawan yang terlahir di Purworejo.

Proses metamorfosis itu tidak terlepas dari kehadiran Bandara New Yogyakarta Airport International (NYIA) di Kabupaten Kulon Progo, sekaligus juga Badan Otoritas Borobudur alias BOB yang konon berkantor di Loano, Purworejo.

******

 

Perjuangan membangun daerah, memang perlu waktu yang panjang, tidak bisa dengan mantera “Sim salabim abrakadabra !” Akan tetapi jika seluruh warga telah bertekad bulat sekaligus dibawah komando sang Dirijen yang piawai. Tentulah Kota Pejuang itu bukan slogan kosong atau “Bukan Impian Semusim”

Purworejo nyaris memiliki segalanya. Dari “genetika” terbukti telah melahirkan pejuang, pahlawan, birokrat handal dan Diaspora di seantero sudut dunia. Kurang apa lagi ?

Dari “comparative advantage”, jelas Purworejo memiliki tanah yang subur, hasil bumi yang menggiurkan dan panorama yang sangat indah.

Obyek wisata yang ada di Kabupaten Purworejo, sejatinya tidak kalah dengan kabupaten lainnya. Tercatat puluhan obyek wisata yang seksi untuk ber swafoto alias “selfi”.

Ada obyek wisata Air Terjun, antara lain Sedandang di Kaligono, Curug Lumbung dan Curug Gunung Putri di Bener, Curug Kaliurip di Kemiri, Curug Kalisar di Redin, Gebang.

Bagi yang suka pegunungan, ada Gunung Ijo di Duren Ombo, Bagelen; ada Hutan Pinus Kalilo di Tlogoguwo, Kaligesing; ada Goa Seplawan di Donorejo Kaligesing.

Wisata pantai juga tersedia, seperti Ketawang, Pasir Puncu di Grabag, pantai Jatimalang di Purwodadi, atau Pantai Genjik di Ngombol.

*******

 

Obyek wisata tersebut bukan hanya menarik wisatawan, tetapi sekaligus magnet yang luar biasa bagi investor untuk menanamkan modalnya. Dengan catatan, tidak ada lagi rantai birokrasi dan perijinan yang berkepanjangan.

Untuk membangun sebuah “peradaban baru”, mengiringi era millenial, “borderless country”, serta “competitiveness” yang dahsyat, maka tidak ada kata lain, kecuali mengoptimalkan “competitive advantage” seluruh warga untuk mengembangkan industrialisasi.

Bukan hanya industrialisasi yang berskala besar untuk pembangunan daerah melalui “Corporate Social Responsibility” alias CSR. Akan tetapi juga membangun industri menengah dan kecil, dengan mengedepankan “entrepreneurship” warga.

Salah satu yang patut segera dikembangkan adalah industri kreatif. Beberapa waktu yang lalu, telah diawali dengan pentas kesenian bertajuk Sawunggalih Art Festival. Dan tentunya bagai obor yang menyala ditengah kegelapan. Jangan sampai obor itu padam lantaran kehabisan bahan bakar.

******

 

Last but not least. Seindah apapun pemandangan di berbagai daerah yang saya sebutkan di atas. Tentulah tidak akan terlepas dari persiapan dan kesiapan Kota Purworejo sebagai destinasi utama.

Para wisatawan dalam maupun luar negeri, tentu perlu mengetahui terlebih dulu bagaimana relung-relung  kota, kerapihan dan kebersihannya. Berapa pilihan hotel, “guest house”, atau “cottage” untuk menginap dengan aman dan nyaman.

Pertanyaan berikut adalah bagaimana “moda transportasi” dan akses jalan, untuk mencapai obyek-obyek  termaksud. Termasuk kualitas pemandu wisata yang memiliki khazanah pengetahuan luas serta penguasaan bahasa asing, tentu sangat diperlukan keberadaannya.

Harapan dari para wisatawan perlu direspon secara baik oleh seluruh pengampu kewenangan dan kekuasaan berbagai institusi di Kabupaten Purworejo beserta seluruh warga

Sesungguhnya pembangunan itu jika kita mulai dari diri sendiri, dari yang termudah dan sejak saat ini, maka bagi warga Purworejo, sebagai “Kota Pejuang”, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit, apalagi mustahil.

Insya Allah…..

#OmahGagas25Desember2018