Ekspresi

Mas Leo Memiliki Banyak Cinta & Menemukan Empang Besar !

Oleh: Hanafi Muhamad

Mas Leo memiliki banyak “cinta” dan menemukan empang besar yang ia sebut “kerakyatan”. Ia sungguh seorang pencinta yang halus dan sangat hati-hati berbicara.

Kelembutan hati yang dikeraskan oleh keras kehidupan tetaplah “kelembutan” yang menetes dalam larik larik sajak-sajaknya yang ditembangkannya di atas “drum” terpasang terbalik untuk mengisyaratkan: “kosongkan”, nyaringkan, dan pekikkan harapan kesejahteraan kehidupan.

Ia bergitar dan bernyanyi, lirik-liriknya tak lepas dari gugusan “keprihatinan” hidup di bawah bulan malam yang akut dan matahari pagi yang beringsut…

Albert, sebuah nama yang cukup dekat di telinga saya, sekali dua kali Mas Leo menyebut nama itu sebagai promotor pertunjukan dari Gulagalugu, Mina Minkum Nusantara, atau saat lagu-lagu Mas Leo diseberangkan Ian Antono ke rock pop.

Di Athena kami selalu di barengkan dalam satu kamar, panitia tahu kami berdua orang-orang yang tak taat dalam mengikuti jadual yang telah disusun panitia “Duta Kebudayaan” di wilayah dingin utara sana. Tentu saja kami berdua tidak tidur terlalu sore, melayap di kota itu menemui orang orang jalanan bermusik dan….,

Oh menghambur di kerumunan orang orang tak berumah di Athena adalah sebuah kehidupan konkrit para pemikir kehidupan. Lebih akan mudah saat kami mencari kemana rombongan “Doger Monyet” itu dibawa panitia di dalam kota itu ketimbang mereka harus mencari kami berdua.

Malam tertentu pintu kamar kami diketuk oleh pihak panitia, saya harus segera menandatangani pemberian uang untuk pembelian sejumlah perlengkapan melukis.

Jika saya dapat subsidi alat melukis artinya mas Leo bisa saya usulkan untuk sejumlah dana, untuk membeli gitar baru misalnya. Dan sore hari berikutnya kami melayap lagi ke toko penyedia alat dan cat melukis.

Kemudian bergeser beberapa blok kami memasuki sebuah gedung berlantai banyak yang seluruh lantainya berisi alat musik. Mas Leo lama sekali mengurut gedung itu dari lantai ke lantai.

Made Wiyanta orang Bali yang sama dengan dari mana lahir istri Mas Leo. Made Wiyanta dan Mas Leo tidak terlalu dekat, Mas Leo bilang sering melihat beberapa hal dalam diri Made yang kurang lebih sama dengan istrinya. Mas Leo tidak ingin menyakiti dirinya sendiri tanpa alasan.

Namun, yang menarik dan membangun kesan terdalam dari “lawatan” ke negeri para pemikir ini adalah Ubiet, seorang penyayi dengan unsur vokal ke Indonesiaannya yang tak tertandingi.

Di sebuah bandara ia meninggalkan laptopnya begitu saja. Dan saya masukkan dalam tas saya diam-diam. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta saya berikan laptop miliknya. “Hanafi, kamu bukan saja pelukis, kamu…..!!!”, Thankyuuuuuuu.” Ubiet memeluk saya tak sudah sudah.

Ya, Mas Leo juga melukis. Tetapi kapan itu ia tak mau membicarakan hal “rumit” itu kepada saya, ia melukis hanya untuk kesenangan, hanya untuk meraih dan menemukan kata yang tak sampai dalam bahasa.

Tetapi harus tetap dalam “koridor” senirupa. Ia menemukan kekosongan dalam karya-karya saya yang siapapun mudah mengisinya. “Aku sering menghabiskannya untuk diri ku sendiri.” katanya.

“Apakah ada yang mudah dalam hidup ini?” Tetapi yang gampang-gampang sudah tidak menarik bagi ku” Bagaimana menyematkan kesan pada sebuah kanvas sementara “kelembapan” di sana tak pernah dapat kita genggam….”

“Dari mana kita mulai Mas Leo” begitu saya bertanya. Semakin panjang kita membicarakan lukisan, semakin kuat ia menjauh dari pemahaman kita yang kering dan dangkal.Tidak ada angin tidak juga hujan, tengah malam selagi saya tidur Mas Leo datang lagi ke studio kami untuk kesekian kali.

Kali ini Mas Leo datang untuk anak laki-laki kami yang tengah berulang tahun, 14 Oktober hari itu. Mungkin anak kami pengganti anak-anak Mas Leo yang jauh. Saya tidak mengerti.

Dalam percakapan lain ia bilang: “….suatu saat, kalaupun kamu mendengar aku pameran lukisan, aku tak kan mengundang kamu”. Kamu bukan pelukis yang hanya cari kesenangan, dan aku tahu kamu tidak ingin mengomentari lukisan siapapun yang dibuat hanya untuk sekedar hobi. Ha ha ha.” kami tertawa sama-sama.

Saya tahu, Mas Leo mendengar ini dari siapa. Memang bahwa itu seperti itu. Dunia senirupa bukan kumpulan orang suka ria, bukan kumpulan orang-orang yang ingin aman bersembunyi di bawah nama besar komunitas atau sebutan seniman dengan “s” kecil maupun “S” besar.

Dunia itu dunia yang sibuk menggali dan menggali.

Mas Leo sakit dirawat di lantai dasar Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Seminggu sebelum datang berita itu kami bertemu di “Dia Lo Gue” Kemang-Jakarta Selatan dalam Pameran ilustrasi GM. Bersama istri, kami ke Kota Bandung dan melesat menemui Mas Leo. Duh, Mas Leo sangat kurus. “Sembuh segera Mas. Konser besar sekali lagi ya?” Ia tersenyum.

Dan Selamat jalan Mas Leo….

 

image:indonesialantern.com