Inspirasia

Mas Tris: ” Bangga Terlahir Sebagai Anak Kolong”

Mas Tris, yang sembari santai sore saat di temui pronek, di rumahnya di bilangan Jakarta Selatan ini ingin sekali bercerita dan membagi pengalaman masa kecilnya sebagai “ anak kolong”.

Kebetulan sang Bapak juga menjadi perwira tinggi TNI dan bertempat tinggal di kompleks Siliwangi. Beliau, sang Bapak ialah Brigjend TNI (Purn) Sunardi DM. Mendengar namanya saja, orang-orang tua angkatan 70 pasti sudah mafhum dengan nama kompleks ini. Atau di sebut juga kompleks Siliwangi dengan 234 SC.

Cerita umum yang pasti diceritakan oleh anak-anak kolong se Indonesia, tentu saja perihal “Bapak-bapak anak kolong “ nya yang menjadi Bang Toyib”. Sering keluar kota. Ini juga sama di alami Mas Tris.

Belum tentu seminggu penuh ada sang Bapak tercinta di rumah. Sudah seminggu jarang bersama Bapak, berpindah dari batalion satu ke yang lain atau ragam komplek tentara dari mulai Kota Magelang, Bandung, Bogor, Jakarta yang sesuai dengan area penugasan Bapak sudah Mas Tris rasakan pula.

Jujur, Mas Tris terinspirasi oleh jejak sang Bapak yang berhasil menjadi perwira tinggi di karirnya, tapi ternyata “ takdir” berkata lain. Mas Tris tidak mendapat ijin dari Bapak, dan pesan Bapak beliau, mengabdi bisa di bidang lainnya. Tidak harus menjadi TNI.

Akhirnya seperti yang bisa di kenal sekarang ini. Lebih dari 20 tahunan di kenal sebagai Arsitek juga anggota parlemen yang tergolong’ paling senior” di Senayan, dimulai tahun 1997 sebagai anggota DPR RI.

Walaupun tinggal di Kompleks Siliwangi, tapi pribadi Mas Tris tetap kuat & terbentuk, tak berubah sedikitpun ciri khas dan gaya hidup Mas Tris . Pergaulan yang luwes & supel dengan anak tentara tamtama sampai dengan anak-anak Jenderal, karena Siliwangi adalah kompleks elite.

“Bapak saya memberikan ikatan akan nilai-nilai hidup, prinsip ketauladanan yang kuat. Ibu saya yang juga mengetahui bakat dan hobi saya membaca, membuat sketsa dari kecil terus memandu sampai remaja.”
Mas Japto. Sangat akrab dengan saya, dan suka bermain di rumah saya, membaca buku-buku komik di Perpustakaan Komik & Buku Cerita kami. Makanya saya dipanggil Mas Japto dengan julukan dik Bambang Komik kala itu. Hahaha.” Kenang persahabatan Mas Tris dengan sosok legendaris pendiri Pemuda Pancasila ini.

Ibu yang sudah mengundurkan diri dari guru di Taman siswa, membuat aturan wajib di rumah. Semua anak-anak nya harus berjiwa dagang dan kreatif.

Makanya, mesti saya, dkk tergolong anak perwira tinggi di Siliwangi, ya saya tetap saban sore berjualan arem-arem, resoles, pastel dan es mambo, juga Koran Berita Minggu di daerah Pasar Baru, Gunung Sahari, juga Lapangan Banteng.

Pun sama. Bapak lumayan kreatif dalam mencari tambahan buat keluarga. Perpustakaan Srikandi yang bapak dirikan di rumah di sulap menjadi home base, atau tempat usaha kreatif, ‘ palugada” orang sekarang bilang mungkin ya.


Di sana, anak-anak SC 234, atau Siliwangi Compleks bisa juga berwirausaha. Tentu sesekali saya ikut dengan anggota SC saat ada keributan, atau ada sedikit “ kisruh’ dengan genk lain. Maklum namanya anak muda ya. Hehe.

Selepas menyelesaikan strata 1. Perjalanan menjadi manusia dewasa, dan masuk di “arus politik” dimulai. Tahun 1997 saya sudah masuk menjadi anggota DPR RI dari Golongan karya juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum IAI, atau Ikatan Arsitek Indonesia juga Wakil Pimred Majalah Asr dan Wapimred Majalah TELSTRA Lemhanas.

“Oh ya, yang paling berkesan menjadi Panitia Pelaksana OC Deklarasi Partai Golkar di Senayan di tahun 1998.Organisasi bukan hal yang asing bagi Mas Tris. Apalagi dari kecil sudah biasa melihat “ struktur militer” yang baku, ikut di kegiatan organisasi kompleks rumah dll nya.Di grup pustakanya juga sudah menjadi pengurus. Mas Tris kemudian terpilih lagi untuk 2 periode menjadi anggota DPR RI yakni tahun 2009-2014 dan 2014-2019.

Pun di FKPPI dimana dirinya terlahir dari rahim ini, beliau sangat bangga masuk di FKPPI. Mas Tris menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pusatnya. Di dalam pemerintahan sekarang, menjadi bagian dari program atau grand desain Ekonomi kreatif sebagaimana Presiden Joko Widodo canangkan juga tak kaget.

“ Ini bukan hal baru juga. Tahun 1983 saya dkk membidani Majalah Asri, itu juga menyasar dunia kebudayaan & kreatif di Indonesia. Dan sering meliput juga rintisan produk mebel awal di sepenjuru negeri.Jadi sekarang ada di Komisi X yang bermitra dengan Bekraf, Kemenpar & Kemendikbud ya sangat pas sekali & “ nendang” di hati.” urai Mas Tris.

“Jadi sebagai penutup Mas, sekali lagi saya sangat bangga terlahir sebagai anak kolong. Dan secara pribadi bisa memberikan “ nilai tambah” Menjadi pribadi Bambang Sutrisno yang seperti sekarang ini.”

Banyak barak-barak militer di DKI Jakarta yang ikut “ disengkuyung” Mas Tris saat menjadi anggota DPR RI, PAUD di area Bataliyon, musibah Tank tenggelam di 412 Purworejo, atau blusukan di program ABRI Masuk Desa.” Ya, seperti nostalgia saja. Puluhan tahun keluarga kami hidup dengan kepala keluarga seorang Militer” tutur beliau.

Ternyata selain sebagai anak kolong juga mampu berkiprah membangun negeri lewat bidang karya seni arsitektural & menjadi “ penyambung lidah rakyat” di parlemen.” Kita ternyata bisa melebihi ekspetasi orang tua, menjadi seseorang yang berarti & tidak hanya di zona nyaman saja.”

“Juga bersyukur, bisa bergabung sebagai “anak kolong” di kompleks ataupun di FKPPI. Di mana di akui Mas Tris turut membentuk pribadinya menjadi seorang pemimpin yang tangguh, kreatif, inovatif dan demokratis menghadapi kenyataan di masyarakat Indonesia yang “terus membangun”, tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa yang tetap santun. ( IE)