Inspirasia

Melambungkan Nama Singapore, Bagelen & Muhammadiyah Lewat Dunia Susastra

Oleh: Ilhan Erda

Paska Perang Jawa 1830 sampai sebelum 1945, adalah tahun-tahun transformasi dalam berbagai bidang dan sendi kehidupan. Kalau boleh di katakan juga berlaku di Kabupaten Purworejo, atau di tahun itu disebut dengan nama Bagelen, yang lantas semakin paten dengan adanya sistem administrasi Pemerintah Kolonial Belanda berbentuk Karesidenan Bagelen.

Banyak keluarga ulama, rakyat atau pengikut Diponegoro dan rakyat Bagelen sendiri yang dengan beribu alasan merantau dan pergi sampai ke lintas negara. Misalnya Malaysia yang sudah penulis singgung lumayan banyak. Tak terkecuali dengan salah satu seniman besar, legendaris sosok pembela tradisi Melayu Singapura dan senior Muhammadiyah Asia Tenggara ini.

Beliau adalah Djamal Tukimin. Djamal anak Bapak Tukimin dari Purworejo. Beliau yang lahir di Geylang Serai Road Singapura ini adalah generasi satu dari trah Bagelen, Purworejo yang berhijrah ke Singapura dan menetap di sana.
1946 lahir di Geylang, yang sampai kini di pertahankan mati-matian oleh Bapak yang namanya sudah kesohor di festival-festival dan acara seni kebudayaan di Asia Tenggara ini.

Boleh di sebut beliau adalah HB Jassinnya Singapura, Subagiyo Sastrowardoyo atau apa saja yang merujuk bahwa beliau adalah yang pertama kali membuat standar atau patron teater Melayu Singapura, katalog penulis-penulis Singapura dan banyak gagasan beliau lainnya.

Karya-karya nya sejak di tahun 1960 sebagai awal berkeseniman di dunia seni dengan cerpen-cerpen lepasnya di media-media lokal dan tercatat di bukukan antara lain Gema Membelah Gema II (KL,1972), Puncak Sembilan (Singapura,1975) , Penyair-penyair Singapura Muda Di Tengah Forum Masyarakat (Singapura,1977), Puisi-puisi Nusantara (Kl, 1981), The Poetry of Singapore (Singapura, 1985) , Tiga Warna Bertemu (KL, 1987) , Dinamika Budaya (Singapura, 1991),

Kemudian ada: Resan dan Kesan Kumpulan Makalah Sempena Bulan Bahasa (Singapura, 1992), Rhythm (Singapura, 2000) , Embun Tajjali (Yogyakarta, 2000) , Citra Minda (Singapura, 2003) dan Legasi – Antologi Puisi Nusantara (Shah Alam, 2006),

Lalu ada juga semisal Kumpulan Esei sastera 1971-2005 bertajuk Sejarah Tidak Pernah Luka Kita Yang Berduka, Puisi-puisi Muhajjir (Singapura, 1977) , Betapa Pun Begitu Nyanyian Rindunya Si Anak Geylang Serai (Singapura, 1999) dan Betapa Pun Begitu Pada hari Berkah Ini Cinta Masih Tersisa (Singapura, 2003) dll nya.

Bapak lahir tanggal 20 Oktober 1946 di Geylang Serai Road Singapura saat tanah asalnya di Purworejo ini sedang terjadi Agresi Militer Belanda. Beliau masih banyak saudaranya di tlatah Bagelen, Jogjakarta dll.  Info pertama penulis ketahui dari mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Habib Chirzin .

Pengidola dari Usman Awang ini selain menulis, dan memperjuangkan sendi-sndi Melayu agar bertahan di Singapura dari berbagai lini juga aktif berdakwah lewat wahana Muhammadiyah. Dan buktinya ialah amanat Sekjen Muhammadiyah Asia Tenggara sempat dipegang selama 4 tahun dari tahun 2002-2006.

Jika di telisik lebih dalam,bakat organisasi & pergerakan beliau memang bukan dari kemarin sore. Tercatat di tahun 1965 ada Gelora Masa sebuah kelompok seni melayu kontemporer Singapura yang ia rintis, lalu sudah tahunan juga meneliti di UKM Malaysia untuk kajian bidang-bidang seni budaya Melayu.

Saat ini Bapak juga menjadi Tim Kuratorial untuk memilah beberapa karya sajak dari seniman Singapura untuk di ikutkan di forum Pertemuan Penyair Nusantara ke XI di Kudus-Indonesia yang selain beliau juga ada Mahroso Doloh dari Thailand, Jefri Ariff Brunai Darussalam, Shirley O Lua Filipina dllnya.

Sungguh Bapak menerapkan Surah As Syu, ara 224-227 dengan sangat baik, dimana isinya membicarakan tentang sajak dan penyair. Dengan medium ini pula beliau ikut menggunakan alat bantu seni & sastra secara optimal, pun nama baik Bapak nya, Tukimin Bagelen. Muhammadiyah & negara nya Singapura juga ikut terangkat sangat sempurna.

source: (Esplanade.com, Abnadin & Prof Dr Habib Chirzin)