Idea

Mengenal Masjid Ontowiryo, Persembahan Diaspora Purworejo (1)

Dharmabakti ialah hal yang sangat mendasar dari didirikannya sebuah bentuk ekspresi kekaryaan, baik fisik atau pikiran dan kelak akan menjadi monumental & mengabadi.

Salah satunya berupa masjid, sebagai representatif, hubungan spiritual, tempat “ netral” nya jasad dan fikir dari “risau dan gaduh “ nya dunia.


Masjid Ontowiryo berlokasi di Desa Wonosari, Kecamatan Ngombol atau Jln Daendels Purworejo ini salah satunya bentuk kekaryaan dan mendasar yang di jiwai oleh dharma bakti itu.

Sebuah dedikasi, bentuk balas budi ke daerah kelahiran dan “ handarbeni”, rasa memiliki, mencintai Kabupaten Purworejo secara kolektif, putra-putri perantauan Purworejo, diasporan Purworejo di sepenjuru negeri dan mancanegara.

Masjid Ontowiryo di desain dengan dua lantai, dengan luas total 540 m2 dan rest area dengan luas 670 m2. Serta halaman seluas 832m2 sebagai perluasan tempat jamaah dan parkir. Dengan luas 540m2, Masjid Ontowiryo akan menampung sebanyak 750 jamaah.

Selain ruang utama sebagai tempat peribadatan, ada juga ruang sekretariat, dan marbot. Serta ruang pendukung utama dan kelengkapannya seperti ATM, rest area & kuliner, penginapan, TPQ, klinik, fasilitas diklat UMKM serta rintisan institusi pendidikan setingkat perguruan tinggi bernama “ Ontowiryo”.


Masjid kontemporer ini jika sudah jadi akan sangat mudah dikenali, dan di harap menjadi ikon baru, landmark baru di kawasan selatan, Jln Daendels, yang terletak 16 Km saja dari YIA Airport.

Perpaduan masjid kontemporer ini ialah arsitektur timur tengah dan kekinian. Ada yang terlihat berupa sebentuk dari orang sujud secara berjamaah, ada juga unsur keris, dan lengkung sebagai identitas timur tengah di bagian entrance nya.

Sedang dari material, Masjid Ontowiryo juga terdiri dari bahan-bahan dari era modern seperti stainsless steel, GRC Board, riben, batu alam dan banyak lainnya dari material modern.

Ontowiryo di harapkan menjadi ikon, landmark baru. Sebuah nilai falsafi dari sosok pahlawan nasional, representasi “pembela wong cilik” dalam menghadapi kediktatoran penjajahan Belanda.

Selain itu juga adanya prinsip-prinsip keadilan, kepekaan sosial, keterbukaan dan visioner. Di mana kesemuanya itu bisa di tangkap dari historisitas, masa kecil BRM Ontowiryo, hingga menjadi seorang Pangeran Diponegoro pada masanya.


Sabar dengan proses, nilai-nilai kejuangan dan spiritualitas yang sangat intim dalam detak-detak aktivitas keseharian sang Pangeran  kala itu, yaitu berjuang melawan tirani. Kesewenang-wenangan penjajah Belanda terhadap pribumi, juga kondisi di Keraton Yogyakarta, yang tak sesuai dengan batin sang Pangeran.

Ide yang melintas batas dan zaman itu coba di terapkan pada Ontowiryo. Tidak hanya sebentuk monumen sakral, tempat peribadatan saja seperti di singgung di atas, ada juga kuliner dan pemanduan pusat ekonomi baru di sekitar masjid dan rintisan sebuah perguruan tinggi.

Diaspora Purworejo dan Muda Ganesha, kelompok di balik layar adanya Ontowiryo tak ayal, secara simbolik menyaratkan adanya semangat kebaruan itu. Kabupaten Purworejo yang di anugerahi Tuhan Yang Maha Esa berupa posisi yang strategis, sumber daya alam yang melimpah serta stok SDM yang dari dulu hingga sekarang sangat penting bagi tegaknya NKRI tercinta.

Bandara baru Yogyakarta adalah peluang, Jalan Daendels daerah selatan adalah spirit yang hebat dan persatuan para diaspora serta kegemilangan Ganesha ialah tak bisa di nafikan.

Momentum harus di ciptakan, tak cukup hanya di jemput. Inovasi, progresi terus di jaga dan langkah awal ialah utama. Masjid Ontowiryo inilah wujud persembahan kami semuanya.

“ Implikasi dari YIA harus kita tangkap. Wilayah Daendels adalah strategis bagi pengendara dari wilayah barat menuju YIA atau sebaliknya. Implikasi itu bisa berupa aktifitas, dan titik-titik baru perdagangan, kawasan industri, pariwisata dll.” urai Prof Agus Sartono, Ketua Yayasan Masjid sekaligus pembina Diaspora Purworejo.


Senada dengan pendapat ketua yayasan, H Darpoko seorang pengusaha insfrastruktur kereta api dari Grabag, atau Brigjend TNI ( Mar) Widad P Adjie seorang perwira tinggi asal Pituruh. Keduanya yang sama-sama diasporan Purworejo di Jakarta menyatakan, Ontowiryo sangat tepat sekarang ini.

“Kami akan membantu dan mensiarkan kepada saudara yang lain juga. Pusat ekonomi nanti sembari jalan bisa juga dirintis di sekitar masjid.” Kompak keduanya mengiyakan.

Ontowiryo ialah buah karya, desain dari profesional putra Purworejo Suparwoko, dimana menampung aspirasi dan  memberi ruang pada akar-akar historisitas, kelokalan setempat.

Peletakan batu pertamanya sudah di mulai kiranya dua tahun yang lalu, di tahun 2017 oleh para tokoh-tokoh diasporan Purworejo seperti Agus Sartono, Muhammad Fahmi, Dwi Wahyu Atmaji, Yenty Garnasih, Zainal Arifin, Imam Edy Mulyono dll.

Dan pembangunannya sampai sekarang terus berproses. Di mana pembiayaan dari masjid yang memakan biaya sekitar lima milyar itu juga mendapat respon yang positif dan berjejaring mendapat apresiasi, atensi yang baik dari segenap saudara-saudara diaspora Purworejo di sepenjuru negeri.

Kalau bukan kita siapa lagi? Bersama-sama mewujudkan satu kebanggaan dan cita masa depan yang baru. Kabupaten Purworejo sudah memberikan segalanya untuk kita semua menjadi seperti sekarang ini.

Partisipasi bersama, saran yang membangun dan info lanjut lekas kiranya di harapkan dari pembaca yang budiman.