Idea

Nasib Bagelenku & Kualitas Calbup Purworejo 2020?

Oleh: Sugi Prayoga UB.

Saya pernah berbincang dengan Prof. Sidik Rahardjo, dosen ketahanan pangan dari UGM  Yogyakarta.  Beliau mengatakan Bagelen dan Kaligesing itu bagaikan emas dan mutiara

Tetapi  emas dan mutiara itu tidak pernah mau digarap atau susah tergarap.

Emas dan mutiara  yang Profesor maksud adalah tentang tanaman dan tumbuhan yang jumlah varietasnya  hampir 3000 lebih.

Digunakan oleh perusahaan jamu diseluruh Indonesia sebagai bahan baku. Tetapi,  alamnya sekarang banyak yang rusak, dan ekosistem sudah tak nature. 

Dalam hati saya bertanya, ini juga pertanyaan yang sama dari Prof. Sidik Rahardjo, yakni tentang bab pemerataan pembangunan yang mana,  toh Bagelen masih gini-gini saja dan semakin waktu Bagelen pun banyak ditinggalkan kaum mudanya merantau.

Berbeda sekali dengan kabupaten sebelah, Kulon Progo yang begitu pesat perkembangannya ekonominya dengan adanya bandara internasional di sana.  Tidak membawa dampak berarti  apapun diwilayah Purworejo paling ujung ini. Sampai detik ini, atau belum ya?

Bagelen memang dapat dampaknya, tetapi dampak kerusakan alam dan dampak lainnya yang berkorelasi dengan kerusakan ini bagaimana nanti Prof, misal banjir, longsor, pohon-pohon nya?

Hahaha. Kami tertawa berdua, kelakar sore yang sendu di temani segelas kopi.

Obrolan pun masih berlanjut tidak hanya tentang kerusakan alam di punggung Menoreh ini saja, tetapi juga infrastruktur yang kurang memadai entah karena apa saya sendiri juga tidak paham. Kok Bagelen begitu tertinggal dari segi apapun apalagi untuk penguatan bisnis. Jelas mungkin.

Bahkan Prof Sidik Rahardjo selaku produsen jamu godhog Merapi Farma Herbal juga mengambil bahan baku hampir 70% dari kawasan Menoreh dan saya dipercaya beliau untuk bisa mengenalkan kembali kemasyarakat tentang warisan leluhur Nusantara yaitu jamu.  Tetapi saya bingung mulai dari mana, ya saya awali dengan Kedai jamu ini jadinya.

Saya berharap ada salah satu pejabat publik mampir di kedai saya sekedar ngunjuk jampi( minum jamu). Obrolan kami semakin meluas sampai kepada titik tentang calon Bupati Purworejo 2020.

Saat ini yang ada tiga kandidat tapi dalam pandangan saya dari tiga kandidat ini kok saya tidak yakin akan mampu membawa ke arah perubahan yang signifikan di Kabupaten Purworejo  pada umumnya dan  Bagelen khususnya.  Saat ini saja sudah sulit .

Saya sendiri jadi bingung arep milih sing endi?  Dan Prof  Sidik Rahardjo pun hanya tersenyum sinis sama saya sebelum pecah ketawa kita seolah-olah  “koyo dagelan”terus.

Siapa yang mampu mengembalikan kondisi Menoreh seperti dulu?

Tangan manusia dan otak manusia hanya mampu merusak tanpa pernah berpikir bagaimana ekosistem akan berlanjut dan mempulihkannya kembali.

Wis lah   akhirnya saya berkelakar dengan Prof Sidik Rahardjo.  Mbelgedes, pancen mbelgedes. Mohon maaf ada salah kata, ini hanya kelakar, “guyonan” wong alit.

About the author

pronect

2 Comments

Click here to post a comment

  • Purworejo butuh keseriusan dan konsisten terhadap tujuan, bukan sekedar bicara siapa pemimpinnya, namun juga bicara siapa yg dipimpin. Keduanya harus satu visi dan sama sama serius pada hasil dari sebuah tujuan atau gagasan. Potensi SDM Purworejo juga sangat menjanjikan namun banyak yg tidak tersentuh oleh pengampu praja, jika tersentuh pun pendampingan dan kontrol nya setengah matang, alhasil banyak program yg juga setengah matang, dan akhirnya mangkrak.
    Fokus, serius dan suport yg berkesinambungan mungkin jadi harga mati, jika ingin maju warganya dan maju daerahnya. Pengampu praja dan masyarakat mutlak harus “menikah” bukan sekedar pacaran atau bahkan hubungan tanpa status yg berujung pada PHP…
    Sekedar curhatan wong cilik, mohon dimaafkan jika ada yg kurang berkenan.