Ekspresi

Nostalgik Cinta Putih Abu-Abu di Kota Kelahiran

Oleh: Wasono Bekasi.

Selesai sholat Ashar  keluar dari Masjid Besar yang dulu dikenal dengan sebutan Kauman , sengaja aku melintas melewati sisi selatan alun-alun Purworejo . Diseberang selatan alun-alun masih berdiri bangunan lama yang diupayakan dan dipertahankan nuansa bangunan gaya tempo dulu.

Pohon pohon tinggi yang dulu berdiri didepan bangunan lama itu kini sudah tiada.   Kuayunkan langkah dengan santai, beberapa kali harus berhenti  mengatur napas.  Inilah sebuah kesempatan yang sudah lama kunantikan,  ingin kutunaikan janji kita, seperti dulu kau ucapkan.

 Entah kapan nanti,  mungkin saat  sudah diusia tua,  kita jalan-jalan menyusuri pinggir alun-alun  dan menikmati semilir angin senja di bangku bambu dibawah pohon waru.  Itu kalimat yang  sering kau ucapkan, sekian tahun yang lalu saat kita masih duduk dibangku SMA. 

Hari ini entah sudah berapa tahun kita tak bertemu  sejak  acara perpisahan SMA,  kuingin menyusuri kenangan kita berdua .  Masih kuingat   sepulang acara perpisahan kita lewat jalan ini berdua. Malam itu kau kedinginan diterpa hembusan angin malam, dan kulepas jaketku agar kau pakai untuk menepis hawa dingin.

 Di kesunyian malam itu kita berjalan saling membisu walau sekali sekali berpegangan tangan , esok pagi kita akan berpisah. Kau akan pindah ke ibu kota mengikuti orang tuamu yang kebetulan pindah tugas pekerjaan, sedangkan aku masih harus melanjutkan kuliah dan belum tahu  diterima dimana.

Dan malam itu adalah terakhir pertemuan kita, terakhir kau ucapkan selamat malam saat kuantar kau didepan rumahmu. Surat yang kau janjikan tak pernah datang, kucoba berjuta tanya dimana dirimu , tanpa ada jawab kudapat.  Sehari berubah minggu , berubah bulan berganti tahun tetap tiada kabar darimu.

 Kadang aku merasa lelah,  sudah kucari dimana kau berada namun hanya rasa getir yang kuterima. Seolah kau telah lenyap tanpa seorang kawan yang tahu dimana kau ada.  Hari ini  kuharap kau tahu dan ikut merasakan jika aku ada disini. Tempat dimana mimpi mimpi kita telah kita rajut bersama .

Diseberang alun-alun pojok timur selatan dulu ada lapangan tenis, juga ada warung kecil. Sebuah pohon waru yang rindang tumbuh didepan warung itu.  Jika sore tiba dibawah pohon waru itu mangkal seorang penjual sate Winong, disebelah  bangku bambu.  Dibangku bambu itulah aku sering menunggumu bila kau tengah bermain voli bersama teman temanmu.

Disanalah kita saling bercanda dan berbagi cerita.  Namun kini semua telah berubah, komplek lapangan tenis itu telah hilang, kini menjadi area food court.  Tak ada lagi bangku bambu itu , juga pohon waru yang rindang. Hanya bayangan senyum nan mempesona dan tawa ceriamu yang tak pernah sirna .

Matahari telah makin condong kebarat, senja semakin temaram ,  kuberdiri di trotoar kupandangi hamparan rumput alun-alun Purworejo. Dulu kira-kira  aku  sering berdiri di titik ini, memandangmu saat bermain voli. Rambut hitam kau ikat dengan pita merah , betapa kau begitu lincah dan gesit menguasai lapangan, kadang kau teriak saat berhasil menghujam smash mautmu.

Aku tetap berharap walau kini  tempat ini telah berubah , suatu waktu kau datang kesini.   Tengok dan nikmati walau hanya sejenak semua kenangan indah kita. Biarkan hanya rumput alun alun itu yang menjadi saksi bisu sepenggal perjalan kita.

 Kini semakin kuragukan semua ini akan menjadi dongeng malam menjelang tidur untuk cucu cucu kita.

 Aku ragu, juga galau  masih  mampukah mulut kita merangkai kalimat  menjadi dongeng yang indah.  Atau memang harus kita relakan semua ini menjadi mimpi kita berdua.  Mimpi,  sepotong kenangan dari kota kecil yang penuh nostalgia, Purworejo.

source poto: Ashar Setyandaru