Ekspresi

PANDEMI KORONA, AKU RAPOPO !

Oleh: Angko Setyarso Widodo

Saya  kira adalah sebuah kebohongan kalau ada yang bilang “Aku tidak terdampak pandemi,” atau “Aku baik-baik saja, aku rapopo,”. Nonsense karena pandemi ini menghajar manusia Indonesia langsung atau pun tidak langsung. Tidak langsung di sini paling kentara adalah sektor sosial dan ekonomi.

Kita pun bisa melihat kerja keras pemerintah menangani dampak pandemi, jelas lewat kebijakan kesehatan dan ekonomi. Kebijakan ekonomi antara lain dengan stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Relaksasi kredit misalnya, atau subsidi listrik (dan air PDAM di daerah).

Kebijakan itu menjadi angin surga bagi masyarakat yang kini sedang memutar otak bagaimana tetap menghidupkan tungku dapur, di tengah merosotnya pendapatan. Merosot saja mending, sekarang ini banyak je yang pendapatannya harus stop karena mereka kena PHK atau dirumahkan untuk sementara waktu. Sementara waktunya entah sampai kapan, semua masih rencana.

Pun mereka yang mampu, yang tidak mendapat subsidi juga gembira dengan langkah pemerintah memberi stimulans ini. Berharap daya beli masyarakat tetap terjaga, ekonomi bergerak meski lambat, ada perputaran uang, semua tetap bahagia.

Tapi akhir-akhir ini Saya mendengar hal yang menggelitik. Yang entah ada hubungannya dengan kebijakan stimulus itu atau tidak. Awalnya cuma satu dua cuitan kecil, lalu lama-lama kok semakin riuh suaranya. Terutama setelah warga bangsa tercinta ini mulai menunaikan kewajibannya membayar biaya aneka langganan. Mereka terhenyak. Kaget dan surprise dengan nilai yang harus dibayar.

Kaget setengah tidak terima karena mengapa kenaikan itu ada pada masa sulit seperti sekarang? Ada seorang teman, wiraswasta kecil, belum juga pengusaha besar, megeluh tagihan air bulanannya membengkak. Biasanya membayar hanya Rp 95 ribu, terakhir bayar Rp 199 ribu. Juga dengan tagihan listriknya yang biasanya maksimal Rp 450 ribu, terakhir menjadi Rp 500 ribu sebulan.

Kawan ini memang bergerak di bidang multimedia, sehingga penggunaan listrik menjadi dominan. Namun, ia tetap merasa aneh karena penggunaan sebulan terakhir biasa-biasa saja, bahkan cenderung stagnan akibat pengaruh pandemi.

Yang luar biasa malah di sektor ‘pengairan’ keluarga itu. Kayaknya penggunaan juga tidak ada kenaikan, mandi juga normal masih dua kali sehari, tanaman kerap tidak disiram karena masih hujan, paling hanya nambah alokasi untuk cuci tangan demi patuhi protokol Covid-19, eh kenaikannya lebih dari seratus persen.

Ia ingin mbengok, tapi apalah daya tidak tahu hitungannya. Tidak tau teori dan rumus mematok jumlah air dan listrik yang digunakan sebulan, lalu mengonversinya menjadi tagihan bulanan. Ya bisanya mereka hanya membayar saja. Sebab opsinya hanya bayar sekarang atau kena denda kalau terlambat, tidak ada opsi hitung ulang apalagi interupsi tagihan.

Sampel lagi ya rumah saya, dua bulan lalu tagihan listriknya 300-an ribu rupiah, lalu naik jadi 400-an dan bulan ini 600-an ribu rupiah. Dalam logika saya, kalau naik dua kali lipat mestinya penggunaanya juga dobel-dobel. Tambah TV, tambah laptop, tambah kulkas, tambah AC. Lha di sini penggunaannya ya normal seperti biasanyam AC saja kami pakai Angin Cendela. Piye jal?

Mereka termasuk saya cuma mbatin, apa ini strategi yang diterapkan saat pandemi? Strategi subsidi silang, gotong royong, yang kaya membantu si miskin. Jalannya mereka yang mampu, mungkin dengan beban penggunaan minimal sekian, akan dikenakan kenaikan biaya. Lalu hasilnya untuk menutup subsidi yang diberikan untuk keluarga sasaran.

Sakjane, menurut saya jika motifnya memang demikian, barangkali ini ejawantah konsep gotong royong di tengah pandemi yang tempo hari pernah saya suarakan. Juga diterapkan pemerintah, misal dalam bentuk program Jogo Tonggo Gubernur Ganjar Pranowo.

Sayangnya ini dilakukan tanpa pemberitahuan kepada pelanggan. Hingga akhirnya yang muncul adalah rasa (eceng) gondok dan berujung suuzon kepada pengambil kebijakan. Mbok ya kalau memang mau terapkan subsidi silang, dikasih tau dulu sebelumnya.

Atau pas pelanggan mau bayar, tetapkan tarif normal, lalu kasir sampaikan dengan halus dan bijak, “Maaf Om, Tante, ini tagihannya Rp 95 ribu sebulan, tapi berhubung kami sedang program subsidi silang, kami bermaksud mengetuk lubuk hati terdalam Om dan Tante guna membayar tambahan biaya 10 persen (atau berapa), untuk membantu mereka yang tidak mampu, apakah Om dan Tante berkenan?”. 

Atau kalau lewat sistem, ya buatkan aplikasinya. Sedekah listrik dan air untuk mereka yang membutuhkan. Kalau ada permintaan menyentuh seperti itu, yakin sebagian besar pelanggan mampu akan mengiyakan. Wis lah itung-itung sedekah duit Rp 10 ribu. Biar pandemi tapi aku rapopo, malah seneng bisa membantu. Tapi yo sing transparan biar masyarakat juga tenang.