Idea

Pendapat Diaspora Purworejo Tentang Hari Jadi Ke 188 Tahun?

Oleh: Ilhan Erda-Sidiq

Kabupaten yang terkenal dengan lokasi Perang Jawa, dan melahirkan banyak Jenderal, tokoh nasional ini tepat berusia 188 tahun di 27 February 2019 ini. Setelah revisi Perda 9 Tahun 1994 tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Purworejo berhasil di sempurnakan, terutama oleh tim Pansus 47 dan di sepakati oleh pihak-pihak yang berkompeten?

Semua sepakat, terutama para Diaspora Purworejo. Saudara, sedulur Purworejo, semua anak keturunan dari moyang dan merasa “ memiliki” daerah ini yang tersebar se antero nusantara dan dunia. Mereka semua berhasil, ada yang menjadi Profesor, Jenderal, pebisnis, ulama dll dan berdomisili tidak lagi di Kabupaten Purworejo.

Pun juga sama. Bahkan keluarga besar dari Pangeran Diponegoro, kel Bupati Purworejo di awal mungkin dll. Sadar, dan sesadar-sadarnya bahwa sekarang ialah era disrupsi, shifting dan industrialisasi 4.0.

Ketika sebuah penemuan baru daya tahannya hanya sebentar? Ketika peradaban digital yang membuat semua peta hidup manusia dan tatanan sebuah kota, pemerintahan bahkan nalar masyarakat juga berubah?

Bagaimana agar efektif dalam mewujudkan gol-gol, mimpi kemakmuran Kabupaten Purworejo agar lekas terpenuhi? Keterbukaan arus informasi dan sumber gagasan yang semua orang, bahkan anak muda pun bisa ikut menelusuri dan menyelidikinya. Serta intisari, pengejaran dan pemenuhan hal-hal yang mengedepankan kolaborasi, hal inti serta tanggap dengan selera & psikologis generasi langgas?

Berikut pendapat para Diaspora Purworejo perihal Hari jadi Kabupaten Purworejo ke 188 tahun:

“Purworejo 188 tahun bukan berarti tua, sehingga bangga disebut Kota Pensiunan, Kota Seribu Patung, Kota Pejuang dan kota ini-itu. Di usianya menyambut era 4.0 sebaiknya dia menjadi Purworejo yang bisa maju, Purworejo yang bisa mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya, Purworejo yang bisa memanfaatkan sebesar-sebesarnya potensi Diaspora warganya, Purworejo yang bisa …” (Andrianus Pao – Jakarta)

 


“ Hari jadi kota manapun tidak pernah final, selalu akan memantik diskusi baru tentang keandalan penetapannya. Namun, untuk sementara waktu kita bisa menyepakati hari jadi baru dengan cara pandang baru yaitu kapan kota kita ini muncul dalam percaturan sejarah. Mudah-mudahan kebaruan ini menjadi pendorong untuk terus-menerus berupaya menjadikan Purworejo tidak sekedar “mulya” ( bermartabat, bernama baik), tetapi juga “mukti” (makmur, sejahtera). Dirgahayu-Dirgayuswa. ( Dr. Sudibyo-Jogjakarta)


“Selamat ultah Purworejo yang ke 188. Orang bijak berkata “Don’t count your age by numbers, but by achievements.” Mari bersama “pay back” ke Purworejo tempat di mana kita dilahirkan dalam bentuk pemikiran dan tindakan nyata agar Purworejo menjadi berkembang. “( Handoko Wignjowargo-Jakarta Utara)

 

 


“Kok disunat banyak? Bukankah Purworejo ada sejak Ratu Shima? Purworejo sebagai Kota penyangga, lumbung padi Karesidenan Kedu Selatan. Semoga kota yang umurnya sudah tua ini tetap mampu menjadi sumber kehidupan, baik sumber pangan dan pusat budaya.”( Wiwin Kurniasih-Jogjakarta)

 

“Waduh. Apa ya? Yang penting doanya supaya Purworejo semakin maju dan rakyatnya makmur. Doa sapu jagad mawon. kalau itu tercapai berarti kan harapan yang kecil-kecil ada di dalamnya dan yang detail-detail itu kan implementasi kegiatan untuk mencapai maju dan makmur .” ( Prof. Andri Kumoro- Semarang)

 

 

“Selamat hari jadi kotaku Purworejo yg ke 188, upayakan bersama menjadi sebuah kota modern berbasis kearifan lokal. Identifikasikan dan manfaatkan peluang yang ada, sekecil apapun itu. Hal ini menjadi tugas kita semua baik pemerintah, masyarakat, dan seluruh Diaspora. “ ( Budi Prijanto- Kota Depok)

 

 


“Dengan hari lahir yang baru semoga menjadi semangat yang baru bagi Purworejo untuk “tangi” berbenah diri menunjukkan jati dirinya sebagai kota penyuplai pemikir bangsa dan negara ini. Semoga dengan hari lahir Purworejo bisa menyatukan perbedaan yang selama ini terjadi, saatnya untuk bangkit membangun Purworejo mulyo. Dirgahayu Purworejoku.” (Rendra Wijaya-Pandeglang)

 


“Saya berharap Purworejo segera berbenah. Agar jangan sampai ketinggalan momentum dan hanya menjadi penonton. Pemerintah melalui dana desa sudah memberikan intervensi. Mestinya tinggal bagaimana mengajak dan menggerakan masyarakat agar sadar dan bangkit.” ( Prof. Agus Sartono-Jakarta Pusat)

 

 

 


“Letak georafis Purworejo kurang lebih ada di tengah-tengah Pulau Jawa dan juga di tengah-tengah Kota Sabang sampai Merauke. Purworejo harus bisa menjadi penyeimbang dan pemersatu dari NKRI ( Beqi Saifuddin-Jakarta Selatan)

 

 


“Harapannya, pertama warga Purworejo bisa bersatu menentukan akan jadi apa Purworejo ke depan, kedua sebagai daerah dengan PAD rendah, Purworejo dituntut kreatif mengembangkan pendapatan lain melalu kegiatan baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Ketiga, keunggulan SDM Purworejo yang sudah terkenal handal, hendaknya bisa terus dipertahankan, bila memungkinkan ditingkatkan atau bahkan di kloning, sebagai suatu bentuk yang baku dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan Purworejo. “ ( Mayjend. TNI Dr. Imam Edy-Bogor)


“Dirgahayu Purworejo semoga menjadi kota idaman warganya, guyub rukun pemimpin dan rakyatnya. Terimakasih sebesar-besarnya kagem para pendiri kota Puworejo semoga arwahnya di terima di surgaNya. Maju terus Purworejo, sejahtera adil makmur masyarakatnya serta taqwa kepada Tuhannya. Maturnuwun.” ( Agus Guntur PM-Jakarta Timur)


“Saya berharap Pemda Purworejo bisa bersinergi dengan masyarakat, baik Diaspora maupun yang berdomisili di Purworejo, untuk bisa memberdayakan human dan natura resources sehingga siap untuk menjemput dan memanfaatkan moment NYIA demi kesejahteraan masyarakat. Mengingat Purworejo banyak potensi pariwisata dan hasil bumi untuk dapat dikembangkan. Dirgahayu Purworejo ke 188 tahun. Grow Together Care Each Other.” ( Toyibudin MK- Kota Bekasi)

 


“Sebagai warga orang tua Purworejo, tentu ikut senang wilayah ini masuk usia 188 tahun sesuai sejarahnya. Semoga Purworejo bisa cepat mengejar ketertinggalannya dan merubah kesan dari daerah pensiunan yang tenang-tenang secukupnya menjadi wilayah Jateng Selatan yang modern tetapi tetap menjaga nilai-nilai budayanya yang kental, adiluhung. 188 tahun usia Purworejo adalah suatu usia yang spektakuler sekali, mengingat republik ini saja baru berusia 74 tahun. Tentu ada yang istimewa dan ada sejarahnya. Legenda tentang kawasan Bagelenan harus terus diangkat baik tulisan maupun seni budayanya. Kalau perlu segera sayembarakan penulisan dan lombakan pagelaran seni budayanya. Kita punya banyak tokoh budaya yang terkenal. Tinggal siapa yang mau memulai?” ( Ir. Bambang Sutrisno-Jakarta Selatan)