Activity

“Profesionalitas, Kerja Keras & Hargai Proses Adalah Keharusan !

Oleh: Redaksi

Menjadi anggota parlemen di Senayan untuk beberapa periode, bagi beliau bukan satu hal kebanggaan. Justru mulai dari pertama masuk di Senayan dan yang ini, 3 periode  jelang selesai tetap sama. Bukan mengejar, dan jadi keharusan. “Hati saya adalah estetika, seni & profesionalitas. Ilmu arsitek saya gunakan termasuk mestinya. Kebetulan Istri juga sama. Dengan menggarap teori Arsitektur  dan desain yang sangat penting untuk saya. Dan cukup bahagia dengan ini.” begitu penegasan bapak murah senyum ini.

“Komunikasi yang baik, kelenturan & kehalusan budi sudah dari awal orang tua tekankan ke saya. Pun adat dari desa Brenggong Purworejo sampai sekarang saya menjalankan. “Njiwit iku loro, ora usah njiwit, kalau moh pengen di jiwit”. Maksudnya kira-kira, dicubit itu sakit, makanya jangan mencubit kalau tak suka di cubit.” imbuhnya.

Teman-teman di Senayan memposisikan beliau kadangkala sebagai “sesepuh”. Dan Pak Tris  sama sekali tidak menganggap mereka yunior, atau masih sebagai wakil rakyat di sini. “Mereka adalah saudara, sahabat & sama-sama pejuang dari daerah masing-masing sebagai “lidah” rakyat  dari sang pemberi mandat amanat.” Jelas ya Mas, urai Pak Tris ke penulis. (red)

Pengalaman yang sangat banyak, mulai  di Komisi V yang menangani bidang Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan, dan Kawasan Tertinggal. Menjadi anggota BURT DPR RI atau pun sekarang jelang usai di Komisi X yang membidani urusan Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, Olahraga, Perpustakaan.

Dan prinsip kerja profesionalisme, kerjakan sepenuh hati. Manajemen waktu, efektifitas dan keterukurannya hasil selalu jadi poin utamanya.Beberapa hasil dari semenjak di komisi hingga saat ini seperti pembangunan Bandara NYIA Jogjakarta, UU Arsitek, Bendungan Guntur, UU Desa dll yang memang dilakukan dan bukan hal istimewa. Begitu sudut pandang lelaki yang juga founder Asrinesia ini.

“Masih banyak PR lainnya, kepentingan-dari saudara & rakyat di Kedu Selatan. Terutama juga Purworejo yang sudah mengalir di nafas ini, yang belum terlaksana.Ini masih saya kejar, mohon koreksi, suport & doanya.”

“Ayo, Purworejo bergeraklah. Akseslah kami seluas-luasnya. Ada saudara-saudara kita yang dipusat. Ada gabung dari sini, anggota Parlemen dll.Kawal, dan aspirasikan dengan sebesar-besarnya keinginan rakyat Purworejo.”  Pak Tris dengan penuh semangat, dan menekankan ini berulang-ulang.

Bapak juga berpesan “Tapi ingat, bekerjalah terlebih dahulu. Berkeringatlah. Berproseslah dengan alam. Bersihkan niat awal kita.Jangan sampai proyek-proyek besar, peluang dari Pusat hanya sebuah seremonia.Terhenti di tengah jalan.”

Contoh dari beberapa kegiatan dan pelaksanaan yang dilakukan di antara para anggota, yang dikenal, dan beberapa, atau beberapa bisnis yang lain yang juga dan beberapa kolega terus berkembang karena beliau terapkan prinsip profesionalitas, manajemen waktu dan kewajiban untuk mengambil risiko dan ada terobosan.

“Tidak ada satu hal yang datang sendiri saja tiba-tiba saja. Singsingkan lengan baju, turun ke bawah. Sumbangkan apa yang bisa kita buat Kabupaten ini tercinta. Pikiran, tenaga, jejaring dll. Musyawarahlah dengan baik, dan pasti semua ada konsekuensinya. Kolektifitas dalam satu derap, satu nafas dan kebanggaan sebagai “wong Purworejo” harus di rajut dan di semai.

Kebangsaan, watak nasionalisme & daya juang sebagai “Putra Bagelen” yang sudah ada di diri masing-masing saya kira mulai bekerja sama, dan sinergis komunal yang solid.”

“Apresiasi setinggi-tinggi untuk sedulur-sedulur Purworejo kemarin yang fasilitasi Silaturahmi 28. Terimakasih banyak Dr Agus Sartono, Pak Atmaji, Pak Mayjend Dr Imam Edy dan sedulur lainnya.”begitu pesan nya

“Move on. Purworejo harus bergerak. Pemetaan dan akselerasi Purworejo tidak bisa di tawar. Jangan lelah untuk melanjutkan & beramal. Sampai nafas ini terhenti. Dedikasi untuk Pertiwi harus terus kuat lajunya.”

Beberapa program Rumah Harmoni, bambu dengan saudara Bagelen beliau,  Jatnika Nanggamihardja sudah berjalan dan berkelanjutan.

“Silahkan saudara, pembaca dan sedulur Purworejo yang mau belajar bisa bersama-sama kita mendiskusikannya,  lantas mempraktekannya.” “Hari ini aku sedang Munas IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) di Kota Bandung. Mohon doa lancar & bisa berdampak besar bagi negara ini.” tutup nya sambil bergegas masuk ruang Munas Ikatan Arsitek Indonesia.