Idea

Purworejo Gumregah: Kiprah Diaspora (2)

Oleh: Dibyo Sumantri Priambodo.

Pada tulisan terdahulu, telah dikupas perlunya pemimpin yang memiliki wawasan jauh kedepan, futuristik, inspiratif dan “think out of the box”, mengiringi diselenggarakannya pilkada di Kabupaten Purworejo.

“Bagai gayung bersambut”, ternyata banyak gagasan yang muncul lewat WAG Diaspora Purworejo. Curah pendapat diantara anggota Diaspora, para profesional dan pakar yang kompeten membuncah, kendati belum sepenuhnya terarah.

Namun pada akhirnya, lewat acara zoom meeting telah di rumuskan oleh anggota Diaspora, rencana pengembangan daerah lewat beberapa program dan tahapan. Jangka Pendek, Menengah dan Panjang.

************

Di samping program yang disusun para diasporan, ada sebuah perspektif yang terkadang dianggap “fatamorgana” bagi pimpinan daerah, maupun masyarakat.

Perspektif tersebut adalah program “Industrialisasi”. Baik berupa fabrikasi, transportasi, pendidikan maupun pariwisata, yaitu dengan mempertimbangkan posisi strategik Purworejo dengan adanya bandara YIA dan alur transportasi Tol Jogja-Cilacap yang tinggal menunggu selesainya “redesign” oleh Ditjen Binamarga PUPR pada bulan Oktober 2020.

Dari hasil kajian pengembangan industrialisasi di berbagai daerah, akan tecipta “multiplier effect” secara berkesinambungan, yaitu bertumbuhnya properti, perkantoran, hotel, lembaga pendidikan, BLK, perguruan tinggi, travel agent, pusat kuliner dan pernak-pernik suvenir.

Sedangkan dalam perspektif ketenagakerjaan, keberadaan suatu industri adalah terbukanya peluang kerja di Kabupaten Purworejo, sehingga tidak terjadi eksodus tenaga kerja potensial ke kota besar maupun daerah industri, seperti yang terjadi selama ini.

Selain itu, karena ancaman hadirnya tenaga kerja dari luar daerah, maka dengan sendirinya tumbuh naluri berkompetisi, entrepreneurship, dan N Ach warga, sehingga akan tercipta kultur baru di masyarakat, yaitu pengutamaan “Competitive Advantage” dari SDM, ketimbang menguras sumberdaya alam, alias “Comparative Advantage” yang dimiliki daerah Purworejo.

************

Sebuah pertanyaan yang menggoda setiap ada program pembangunan adalah menjawab dimensi SWOT serta menjawab aspek 5W1Hnya.

Sudah tentu bagi para diasporan “Generasi Milenial”, pertanyaan tersebut tidak jadi masalah. Bahkan pertanyaan tersebut merupakan tantangan dan peluang untuk menjawabnya.

Patut dipahami bahwa kontribusi pembangunan di suatu wilayah tentu harus memperhatikan regulasi, rantai birokrasi dan mengikuti kaidah “Manajemen Rantai Pasokan”(Supply Chain Management), sehingga penting mempertimbangkan komunikasi, kordinasi dan kolaborasi antar instansi, baik pemerintah maupun swasta.

Sedangkan bagi diasporan yang lebih “sepuh”, yang berasal dari generasi “Baby Boomers”, biasanya cenderung lebih “wise”.

Sebagian diasporn, selain mempertimbangkan nilai investasi, juga memperhitungkan dampak ekologi industrialisasi, aspek sosial, budaya dan kearifan lokal.

Memang patut diperhitungkan dampak keamanan, kesehatan, polusi udara, air maupun “mental dan moralitas” para pelaku industri dan imbasnya pada masyarakat sekitarnya, secara komprehensif, holistik dan terukur.

*************

Kendatipun seperti “fatamorgana”, apakah semua lantas terdiam sambil terpana melihat pertumbuhan dan perkembangan kesejahteraan daerah lain?

Patut disadari bahwa pembangunan daerah tidak mungkin tercipta secara “instant”, tetapi mengikuti azas “growth and sustainability” Sehingga harus tekun dan sabar, tidak mengalami patah semangat ataupun frustrasi.

Dengan demikian, diasporan yang telah punya nawaitu memajukan dan meningkatkan kesejahteraan warga Purworejo, semestinya tidak ada lagi keragu-raguan. Bersama mengayunkan langkah, dan mewujudkan cita-cita.

Melalui KISS antar generasi, profesi dan instansi, diharapkan program yang telah tersusun rapi, akan segera terealisasi….

Semoga.

About the author

pronect

4 Comments

Click here to post a comment