Ekspresi

Resume Maestro Hanafi di Gedung Heritage Kota Pensiunan.

Satu

Berada dalam satu atap, dinding dan plafon sebuah tangsi militer. Heritage yang merana diubah menjadi sebuah cafe, musik dan tarian, puisi dan deklamasi, mungkin juga microfon suara partai, atau suara anak muda gelisah.

Pertemuan di mulai pukul delapan malam, bakda isya, hujan juga hadir lewat genting tua, bunyi masa lalu yang menggetarkan, yang serba sangsi, karena kita adalah saksi perubahan demi perubahan, asal usul, sebab akibat, dan kita mendekat pada “kebuntuan” mengerikan.

Maka hanya ada satu jalan:

 “Kembali melihat akar, tidak membabat akar jika kita mau tumbuh”…!

Sulit berakhir, kesibukan membuka tutup botol, untuk membuka kepenatan, mengucurkannya ke dalam gelas gelas di tangan, untuk separuh mabuk dalam “dinamika” diskursus tak terbatas.

Subuh tiba, kembali ke diri masing masing, istri dan keluarga, kita ingin jalan ke depan kesejahteraan yang kita impikan.

***       ***        ***

Dua

Pertemuan berlangsung di bawah kalimat-kalimat panjang tanpa titik, selalu hanya koma, seperti antrian vaksin Sinovac.  Sebuah ruang yang dipenuhi dengan iklan obat obatan.

Ugeng T. Mutijo pernah menulis pameran saya dengan gaya itu, menulis tanpa koma, bahkan tanpa titik sehingga napas pembaca habis di tengah kalimat panjang, tak dapat menuntaskan tulisan itu hingga akhir.

Sebenarnya pergumulan kata dimulai justru saat cafe itu harus tutup, sehingga kami harus pindah ke ruang lebih di luar, namun tetap di gedung heritage itu.

Tampaknya kalimat tanya dan jawaban-jawaban makin tergelincir jauh ke jurang jurang gelap, prospeknya muram.

Tetapi kita akan terus menyusuri liang-liang gelap itu sampai bagian terujung, tergelap, dan kita akan menemukan titik terang serupa api lilin dari kejauhan, dan yang penting kita mengalami prosesi menuju ke sana.

Apakah kita harus membicarakan orang-orang yang tidak ada dalam pertemuan itu? Tidak, kita hanya membicarakan nama nama. Sebab dunia tanpa nama nama artinya bukan dunia yang sebenarnya.

Jika kamu mengatakan bahwa dirimu tak punya musuh di dunia ini artinya bahwa kamu tak pernah punya lawan selama ini, jika kamu merasa tak pernah punya kesalahan artinya kamu tak pernah mengerjakan PR dari guru kelas mu selama ini, dan jika kamu tak pernah jatuh selama ini, kamu memang tak pernah bangun dari tempat tidurmu.

Syarat hidup sungguh seperti syarat yang ada dalam permainan catur, biji catur putih dan biji catur hitam dimulai dengan jumlah yang sama. Jika jumlah yang hitam dan jumlah yang putih benar-benar sama, permainan baru bisa dimulai.

***        ***        ***

Tiga

Kota Tangsi, tetapi tangsi-tangsi yang berada persis di jantung kota itu, yang merupakan cikal dari terlaksananya kota ini menjadi benar-benar kota, tampak tidak rapi, cat-catnya sudah terlalu tua untuk dapat bertengger di dinding, warnanya telah lama memudar dan malu, minta dikerok untuk warna yang baru.

Jantung kita tumbuh benalu. Bukan karena kita seorang perokok, tetapi seperti sebuah kata yang malas menjadi sebuah kalimat. Maka kita tidak pernah paham dari detak detaknya.

Beberapa kali dengan waktu yang sekejapan saya melintasi kawasan itu. Dan sekali lagi melintasinya dengan mencuri-curi pandang. Apa yang bisa saya lakukan?

***    ***       ***

Empat

Kemudian setelah kota kota, urbanisasi meminta hak yang dijanjikan, kita akan berada pada kondisi yang tak sinkron dalam sebuah era yang bernama modern, mengendap di malam-malam gelap “gentrifikasi” tak terelakkan. Harmoni yang dipaksakan, mal dan bengkel-bengkel, warung makan dan para buruh bangunan Kondominium saling tampil gigantis dalam metronom pembangunan, salon dan reparasi radio, warung sate dan dealer mobil.

Rural, yang baru telah tiba, yang lama belum mau lepas dari genggaman, sejak tanah ini milikku, dan yang itu milikmu, dan ruang publik yang di sana hendak diprivatisasi juga.

***     ***      ***

Lima

Kota ini musti lekas di tata kembali, memiliki barak-barak militer dan tidak semua kota memiliki hal ini. Dinding-dinding bata tebal yang dicetak di masa yang lalu, tangan- tangan ampuh milik orang orang tak kita kenal, jendela besar menjulang tempat kita menerima angin malam, momen kita berkumpul dan berupaya saling menyenangkan lebih dari sekedar kerinduan yang mendapatkan tutup botol, tetapi segalanya berlangsung teramat cepat.

Kita bisa sampai ujung malam, duduk dan sepertinya kita tidak lagi canggung, seni rupa masa kini, dan segala yang di belakang itu.

Apakah galeri-galeri kita sedang sehat sehat saja?  Covid- 19 menendang siapa pun. Menghamparkan kertas-kertas agenda kerja, formulir ranjang dan kamar-kamar rumah sakit.

***   ***   ***

Enam

Setiap kita dapat datang dari manapun, minumannya sesuaikan pilihanmu masing masing, ini kecap manis jika kurang manis, ini kecap asin untuk yang suka garam. Garam kita bagus, tak ada kota lain yang menghasilkan garam sebagus yang dapat diberikan dari kota ini.

 Tetapi permasalahannya dapatkah keuntungan menjual garam ini bisa untuk satu lahan semacam “ARTSPACE” atau sekedar membeli canvas dan cat kita di masa mendatang?

Cabe keriting kita benar benar banyak, mereka keriting di sana dan, oh…., sekarang aku tak bisa menyebut kambing Etawa lagi, kini mereka mengenakan nama Kambing Kaligesing.

Heritage tengah malam, jalanan berhenti bertugas dari keramaian mobil dan motor, sepi. Inilah kota untuk tidur, dan tanggal hari menerima tunjangan hari tua “pensiunan” hampir tiba.

 Ini kota ranjang dan teko-teko di meja kecil dekat kelambu kasur tua. Aku dengar juga siapa pun sudah tak bisa menyebut kota ini dengan julukan kota pensiunan. Namun ini perubahan yang sedikit terlambat.

Di sini perubahan demi perubahan datang pelan pelan, takut membangunkan orang orang pensiunan.

***   ***   ***

Tujuh

Resume dan lipatan kertas minyak di dalam saku, catatan akhir sebuah tugas yang tak dapat diwakilkan, adalah tumpahan darah yang belum juga mengering di sana, sebuah trauma yang tak lagi menyakitkan.

Baledono Krajan. Apakah Anda pernah ke sana, surau dan gang-gang kecil menuju masa lalu yang menyenangkan, di masa uang amat langka dan panen padi belum tiba.

Pasar Besar terbakar, uang uang logam lengket di kotak laci yang telah menghitam, seperti “Black box” yang belum ditemukan. Tujuh belas hari sebelum hari lebaran, hujan kesedihan dan air mata tak juga mampu memadamkan api yang terus menyala di atas plafon kayu lapis tua, hangus bersama menyusun mega mega seperti gambar kuda berlari, kuda yang ingin berlari.

Ingatan itu, monumen pribadi yang terbuat dari kepulan api berangsur surut. Pasar pasar sementara menempati badan jalan menuju stasiun kereta yang sedang tidur.

Prinsipnya, hasil tilikan hasil bumi dari tinjauan para pakar yang mengatakan beberapa “keunggulan” dan kualitas lebih baik ketimbang tanah manapun yang dapat menghasilkan barang semacam itu tentang: Gula semut, cabe keriting, kacang ijo, dan garam-garam harus menyusul apa yang disebut kualitas daya hidup manusianya tentang sanggar-sanggar seni yang tumbuh, kantung kantung budaya yang sehat, dan Artspace atau galeri galeri yang representatif, sebelum kemudian “RedBox” yaitu sebuah kotak “kemarahan” anak anak muda yang merasa diabaikan.

Purworejo, 21 Oktober 2021

picture: kemenkeu, KKP