Ekspresi

Rindu Yang Tertulis Antara Bekasi-Purworejo ( Lebaran)

Oleh: Budi Wasono

Selepas mengikuti pengajian bakda subuh, saya duduk diemperan masjid sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi.  Sambil melihat burung burung kecil yang saling berkejaran di pohon depan masjid perumahan.

Bulan puasa Romadhon tak terasa sudah masuk minggu kedua, biasanya sudah bersiap-siap untuk mudik , pulang kampung. Namun sudah dua kali lebaran ini terpaksa tidak mudik karena situasi pandemic Covid-19 tidak memungkinkan untuk pulang kampung.

Ada rasa rindu , ada kangen yang begitu kuat akan suasana lebaran di kampung Brengkelan Purworejo,  walau sekarang situasinya juga sudah berubah.  Suasana hiruk pikuk lebaran jauh berbeda dengan lebaran beberapa tahun lalu.  Kenangan suasana lebaran dikampung era tahun 70 an membuat suasana hati  mengharu biru.

Dulu tahun 70 an , masa kanak-kanak  moment lebaran adalah sesuatu yang istimewa, sesuatu yang begitu ditunggu. Suasana kampung saat lebaran begitu terasa indah , sangat kuat terpatri dalam kenangan.

Selepas ritual sholat Idul Fitri  yang dilanjut sungkeman  disertai makan Bersama membuat suasana  hangat dan meriah.  Dilanjut Bersama sama  ziarah kemakam leluhur selain untuk kirim doa bagi para leluhur, ritual ziarah ini juga biasanya diwarnai dengan pertemuan saudara yang juga ziarah ke leluhur yang sama.  Apalagi bila ketemu saudara yang merantau ke kota , yang pulang setahun sekali saat lebaran , pertemuan sejenak di makam biasanya berlangsung ramai.

Suasana lebaran tentu sesuatu yang istimewa memang, dulu pakai baju baru mesti nunggu lebaran. Setiap lebaran dulu saat anak-anak biasanya kita rame-rame muter   kampung, kita sungkem kepada orang tua dan  tentu saja  kita disuguhi berbagai suguhan makanan ringan yang sudah disiapkan di meja.

Kala itu ada beberapa makanan favorit , biasanya masing masing tempat punya ciri khas sendiri. Teringat akan gurihnya kacang bawang,  segarnya tape ketan  atau nikmatnya jenang.  Biasanya saat sungkeman keliling di kampung kita juga diberi uang,  dan  dikumpulkan biasanya kita gunakan untuk nonton bioskop yang jika lebaran menggelar pertunjukan siang hari. Ritual sungkeman keliling kampung secara Bersama sama ini bisa berlangsung sampai tiga atau empat hari.

Kadang dari uang yang kita peroleh saat sungkeman biasanya kita kumpulin dan ramai-ramai kita ke Pasar Baledono, kita  makan bakso dan minum dawet bersama.

Suasana kebersamaan  yang penuh kehangatan seperti itu , rasanya telah lenyap dan sulit ditemukan kembali.  Menjelang lebaran , saat persiapan mudik seolah suasana itu yang kita rindukan yang kita impikan. Namun begitu sudah sampai di kampung halaman kerepotan dengan suasana serba tergesa-gesa karena keterbatasan waktu tak ada kesempatan  menikmati suasana batin yang kita rindukan.

Oh kotaku, membungkus kenangan dan nostalgia yang tiada terperikan…