Ekspresi

Sapardi Djoko Damono, Modica & Puisi Salvatore

Oleh: Agus Riyanto

Penyair berpulang, hiduplah karya-karyanya.

Saya tiba-tiba terkenang menyusuri jalanan di Modica Sicilia pada September, di ujung musim panas tahun lalu.

Melintasi jalanan utama Modica, kota tua di tengah Pulau Sisilia yang kering itu, saya terpaku pada tulisan berbahasa Italia di dinding sebuah bangunan.

Caudio, fotografer orang Turin pasangan sahabat istri saya waktu sesama menjadi Fulbrighters di New York, bilang, itu rumah Salvatore Quasimodo.

Ah, si pemenang Noble sastra itu rupanya. Entah mengapa, lantas berkelindan nama Sapardi Djoko Damono di siang itu.

Ingatan lantas melayang ke puisi sang pemenang nobel yang diterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Sangat manis, menyihir dan sangat menyapardi.

Ini:

Kini hari pun rekah
Malampun lalu/ bulan pun meleleh dalam hening/terbenam di sungai

Demikianlah September hidup di tanah tanah datar ini
Padang padang menghijau bagaikan lembah lembah di selatan/ waktu musim semi

Telah kutinggalkan sahabat sahabatku
Kusembunyikan hatiku di tembok tembok tua/ untuk sendiri mengenangkanmu

Betapa kau lebih jauh dari bulan
Kini haripun rekah
Dan di batu batu/ suara tapak tapak kuda menderu.

***

Meskipun terjemahan, saya merasa puisi ini sangat kental dengan idiosinkrasi Sapardi. Dan kalau tidak dibilang terjemahan, tak pernah tersirat bahwa ini puisi Italia.

Dalam versi Bahasa Inggrisnya, puisi ini sebenarnya sangat datar, nyaris kehilangan nuansa puiitiknya.Entah saya yang tolol dan tidak tune in—atau memang terjemahan ke Bahasa Inggrisnya yang buruk.

Ini puisinya:

Now the day breaks /night is done and the moon
slowly dissolved in serene air
sets in the canals.

September is so alive in this country
of plains, the meadows are green
as in the southern valleys in spring.

I have left my companions,
I have hidden my heart behind ancient walls,
to be alone, to remember.

Since you are further off than the moon,
now the day breaks
and the horses’ hooves beat on the stones.

Mungkin ada yang seperasaan, bahwa hasil terjemahan beliau sangat khas. Diksinya sangat Sapardi. Khas, liat, kental dan puitis sekaligus.

Meskipun beberapa tahun terakhir ini saya tidak tahan menonton baca puisi di panggung, saya masih menikmati puisi kendatipun lewat nyanyian Ari dan Reda.

Bagi saya, masa Rendra, Soetardjie, Darmanto Jarman dan Ibrahim Sattah yang sangat menguasai panggung pertunjukan sudah lewat. Tinggal Sosiawan Leak yang masih sangat teatrikal. Selebihnya, they are not my taste.

Pak Sapardi juga bukan pembaca puisi yang menarik. Kepiawaian beliau memang bukan di situ sepertinya.

Tapi puisinya bagi saya pribadi, seperti mantra yang manis. Dan puisi beliau sepertinya lebih enak dibaca di balik jendela senja—berhujan pula.

Jadi, ketika membaca pak Sapardi meninggal pagi tadi, saya teringat Modica, rumah Salvatore Quaisimodo, dan puisi yang lebih menyihir terjemahan dari pada aslinya.

Pak Sapardi, sugeng tindak.

(My gratitude to Daniela Fargione and Claudio Cravero for taking me and Ivy to this city. Gracias.).

image source: Alfinrizalisme/IG