Idea

Selarik Kisah Tentang Alter Ego

 

Oleh: Satwika Ganendra.

 

Sebagai “Gen Y” alias generasi milenial, saya merasa begitu bangga dan bahagia, melihat foto dan video kemeriahan acara Purworejo Fair 2019 dan Forum Investasi.
Begitu semarak acaranya, dilengkapi berbagai atraksi serta kuliner khas Purworejo yang “yummy”.

Ehm, semoga acara tersebut menginspirasi berbagai pihak untuk segera menanamkan investasinya ke Tlatah Bagelen, sehingga bukan cuma “Roti Bagelen” yang kesohor seantero negeri, tetapi juga potensi daerah Purworejo yang merambah ke sekujur dunia.

Perkara ada “multi persepsi” tentang sistem dan tatacara pembangunan daerah, maupun perbedaan pandangan dari sudut mana mengawalinya, sudah tentu itu kapasitas dan kepiawaian para diasporan, pemerintah daerah dan para pakar yang terlibat di dalamnya.

***

Berbicara tentang perbedaan “sudut pandang” diantara para pakar dan diasporan, tentunya tidak perlu masing-masing berdebat keras.
Keindahan itu justru terbangun lewat diskusi hangat untuk menyatukan persepsi, bagaimana membangun sebuah negeri.

Boro-boro banyak orang dengan berbagai tingkat keilmuan. Wong, dalam diri seseorang pun juga bisa terjadi suasana berbantah-bantahan antara pandangan yang satu dengan lainnya kok.
Seperti lirik lagu, mengapa begini, mengapa begitu.

Kesemuanya itu lantaran setiap orang cenderung punya “Alter Ego”. Sebuah kondisi dimana seseorang secara sadar membentuk karakter lain dalam dirinya.

Dalam “moment tertentu”, karakter ciptaan itu merupakan gambaran ideal tentang dirinya tetapi tidak mampu direalisasikan. Sehingga hanya terhenti sebagai idaman atau cita-cita belaka.

Beberapa pakar menyatakan bahwa “Alter Ego” adalah sarana untuk menyembunyikan “sisi pribadi” dihadapan khalayak ramai. Bukankah banyak pejabat yang bisa bicara berbusa-busa dengan teori yang “ mantap surantap”, tetapi sesungguhnya tiada makna?

Bicara tentang “Alter Ego”, sebetulnya setiap orang berpotensi memilikinya. Bahkan konon nenek moyang kita mengistilahkan “Alter Ego” sebagai “Sedulur Sinarawedi”, atau mungkin juga sebagai “sedulur sikep”

Nah, sampai di sini cukup jelas bahwa dalam diri seseorang, bisa terjadi perdebatan seru tentang suatu hal, maka tidak mustahil akan terjadi bantah-berbantah pada sekelompok orang terhadap program dan proses pembangunan daerah.

***

“Alter Ego” seseorang pada dasarnya masih terkendali, sehingga di setiap permasalahan tetap terbuka peluang untuk mendiskusikan sekaligus mendapatkan solusi yang “top markotop”

Lain halnya jika perbedaan sudut pandang menjadi semakin tajam, lantaran masing-masing orang mengidap “kepribadian ganda”.
Istilah kepribadian ganda, oleh para pakar disebut “Dissociative Identity Disorder,” atau “Multiple Personality Disorder”

Tetapi semua itu hanyalah sekilas teori tentang “Alter Ego”. Karena tentu saja, paman-bibi, opa-oma atau bapak-ibu para diasporan tidak ada yang mengalami kepribadian ganda. Percayalah.

Sehingga saya yakin bahwa ayunan langkah pertama untuk mengundang investasi pembangunan di Tlatah Bagelen akan segera melaju, lari kencang dan terbentuk formatnya.
Ayuuk, kita bangun daerah kelahiran tercinta dengan semangat yang membara.

Konon kata para pujangga. “Cinta bukanlah cinta, sebelum diwujudkan. Begitu pula pembangunan bukanlah pembangunan, sebelum dilaksanakan…!”

 

#NdalemGanendranDiAwalPekan