Idea

Sepakat. Hari Jadi Purworejo Baru, Etika, Semangat & Etos Juga Baru!

Oleh: R. Julianto & Ir. Kresno Pujonggo

Dengan perubahan Hari Jadi Kabupaten Purworejo dari semula tahun 901 Masehi dengan berpatokan kepada Prasasti Kayu Arahiwang yang berarti Purworejo menjadi salah satu Kabupaten dengan umur yang sangat tua sekali, yaitu 1118 tahun.

Bahkan jauh lebih tua dibandingkan Ibukota Negara DKI Jakarta dan sekarang menjadi 188 tahun dengan mengacu kepada sejarah berakhirnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa, tahun 1830 dan kemudian berdirilah Kabupaten Purworejo di tahun 1831 dengan Bupati pertamanya Reso Diwiryo dan bergelar R.A.A. Tjokronegoro.

Harapan saya tentu ingin adanya suatu perubahan positif yang akan membawa kemajuan di segala bidang. Walaupun kalau mau jujur, rasanya ada sebuah kebanggaan yang hilang, yaitu Kabupaten Purworejo sebagai Kota Tua.

Pun demikian saya tetap berpikir positif semoga keputusan merubah Hari Jadi Purworejo adalah sebuah keputusan yang sudah diperhitungkan secara matang dengan tujuan semata-mata demi kemajuan serta kepentingan masyarakat banyak, bukan hanya didasari kepentingan segelintir orang yang memiliki maksud-maksud tertentu.

Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan terkait perubahan Hari Jadi Purworejo, semoga Kabupaten Purworejo dapat mengejar ketertinggalannya dari daerah-daerah lain disekitarnya.
( R. Julianto Haryokusumo, SH.- Kota Depok)

***    ***    ***

 

Selamat buat Hari jadi Kabupaten Purworejo yang baru, ke 188 tahun. RAA. Tjokronegoro adalah Bapak Pembangunan Purworejo, kota baru paska Perang Jawa usai.

Dan lebih elok juga, sosok Pangeran Diponegoro, dengan kebesaran, heroismenya juga bisa menjadi ikon di Kabupaten Purworejo. Kabupaten Purworejo harus bangga mempunyai sosok dua pahlawan sama-sama murid Kyai Taftanjani ini.RAA Tjokronegoro & Pangeran Diponegoro, di mana sama-sama bertariqat Syatarriyah.

Pangeran Diponegoro, beliau menjadi inspirasi nasionalisme Indonesia, banyak yang tidak tahu termasuk para birokrasi Purworejo. Kemudian tentang Bupati RAA. Tjokronegoro, yang justru tidak di imbangkan, ada sosok Pangeran Diponegoro, di mana di belakangnya, di tlatah Kabupaten Purworejo banyak pengikut, termasuk R Gagak Handoko, Banteng Wareng dan banyak lainnya.

Kesetimbangan perlu adanya. Kita bangga punya dua pahlawan yang sama-sama heroik dan cinta tanah airnya pada masa itu.

Kabupaten Purworejo akan maju landas dengan sikap yang jujur, epik serta etos kerja keras seperti di tauladankan oleh RAA Tjokronegoro dan Pangeran Diponegoro.

Era industry 4.0, tinggalkan feodalistik, persaingan sempit egositas sektoral karier dan strategi serta trik kreatif guna memacu daya saing dan daya juang yang tinggi dari ASN di Kabupaten Purworejo sebagai pelayan rakyat yang “sesungguhnya” dapat terlaksana. Tentu dari keteladanan dua sosok tersebut di atas.

(Ir. Kresno Pujonggo- Jakarta Utara)