Opini

SIKAP PURITAN MENGHAMBAT RENCANA JALAN KEDEPAN?

 

Oleh : Ir Krisno Pudjonggo,M.M. ( Jakarta Utara)

Kenangan tentang Bogowonto selalu mengingatkan masa kecil di Purworejo, dikampung Plaosan yang punya mata air “Kecacil” dan dulu tempat bermukimnya “Mbah Nyai Laos” yang sakral dan melegenda. Banyak tokoh-tokoh penting negeri ini berasal dari Purworejo mulai dari Kasman Singodimejo, W.R. Supratman sampai dengan Jend A Yani. Jend Sarwo Edi Wibowo mertua SBY Presiden RI ke 6 dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga akrab bagi warga Purworejo.

Munculnya julukan Purworejo sebagai kota pejuang sebagian lainnya menyebut sebagai kota pahlawan dan selalu mengkaitkan dengan kebesaran Bupati Cokronegoro kerap menjadikan kening berkerut. Ini semata karena justru kota ini semenjak lama tampak kusam dan sepi seperti mati enggan hidup pun tak mau. Suasana kota tak secermelang tokoh itu tapi lebih mirip Kota Pensiunan. Ada sekolah favorit  sepanjang masa dan telah banyak melahirkan anak-anak pandai yang sukses dirantau sehingga terkadang menjadikan rasa bangga yang meninggi tetapi mengapa Purworejo termasuk daerah tertinggal sering terngiang berkelanjutan. Banyak bangunan lama bergaya kolonial Belanda yang telah usang direntang jaman dan renta dimakan usia.

Di Purworejo sekitar 10 tahun lalu,“Pakuwojo” Jakarta pernah melakukan tanam singkong ditanah marjinal yaitu untuk maksud “peduli daerah” yang acara panennya bersama Gubernur Ganjar Pranowo di Kaligesing. Saat dialog saya kemukakan sebuah pendapat tentang belum tanggapnya diantara para tokoh berfikir terhadap manfaat besar Sungai  Bogowonto. Hal itu mengulang dialog dengan Ir Jiteng Marsudi jauh sebelum itu. Beliau ex Direktur PLN dijaman Orba yg mengatakan : “ …. mahal, ora, ora …. ora perlu digagas”, beliau asli Purworejo.

Terkejut kemudian dengan munculnya proyek besar “Waduk Bener” justru diera pemerintahan Ganjar Pranowo saat ini. Apakah ada benang merah antara pemikiran tersebut dengan dialog waktu itu “saya tidak tahu”. Bahkan ide tanam singkong ditanah marjinalpun tak pernah mendapatkan tanggapan positif lebih lanjut dari beliau apalagi oleh Pemda Purworejo sampai sekarang.

Masuknya Purworejo dalam daftar daerah tertinggal menimbulkan pertanyaan tentang banyak hal dan memang kelihatan dari suasana temaram di dua tempat berpengaruh yaitu Kutoarjo dan Purworejo. Bahkan daerah bukaan baru disekitara Kledung atau Sucen pun sama temaramnya, pada hal masterplan kota sudah menempatkan titik tersebut sebagai daerah pertumbuhan baru dengan membuat jalan lingkar barat menuju Magelang.

Di Purworejo hanya muncul proye-proyek  rutin dari anggaran pemerintah dan miskin ide oleh swasta atau masyarakatnya. Apakah ini dampak dari tanah ex VOC yang sebagian besar dikuasai militer ataukah perasaan mapan bagi elitenya sehingga tidak butuh inovasi? Yang jelas Pemda Purworejo sampai harus beli  ex bioskop Bagelen dan Hotel Ganesha yang kemudian dianggarkan menjadi Gedung Pertemuan. Mengapa tidak minta saja ke militer toh dulu itu juga hanya ambil dari Belanda?

Amanat Proklamasi memang menyebut “…. hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat2 nya” ….maka tanah itu dikuasai. Dari pada militer tak punya rumah sakit yang memadai atau malah ambruk seperti gedung pertemuan di Jln Ksatrian mengapa tak lebih baik berkolaborasi bersama Pemda atau swata  untuk memanfaatkan kawasan DKT merubah wajah kota menjadi sarana publik misalnya mall, hotel atau bangunan kekinian lainnya.

Sikap puritan menggelayut diantara para birokrat yang terlalu asyik bermain isue disekitar kebesaran nama Cokronegoro bahkan melalui salah satu organisasi desa diformalkan dalam bentuk kendaraan politik yang jika mendekati hajat pileg, pilpres dan pilkada ikut sibuk. Ide dasarnya ngumpul-ngumpul  sekedar arisan tapi ternyata mampu menghantarkan sang Ketua menjadi anggota DPRD. Permainan lama dan sudah usang tapi masih dipertahankan di Purworejo ini bergerak terbalik dengan organisasi diaspora yang banyak muncul dimasyarakat yang tak pernah mendapat tempat dikalangan birokrat Purworejo.

Kelompok puritan bertahan pada sikap “anti kemajuan” berbasis tradisi yang dalam istilah  sekarang dikenal dengan “fenomena disruption” sebagaimana keadaan menyengat panas yang sedang terjadi disekitar Waduk Bener. Sikap puritan menghambat rencana jalan kedepan sementara daerah lain lari berkejaran Purworejo tertatih ketinggalan.

Memang ada taman indah melingkar disepanjang alun-alun Purworejo dan juga dibanyak tempat dimana-mana, tampak elok dan semarak. Tapi itu bagian dari aset jalan yang dulu dibuat oleh Belanda sewaktu menjalankan taktik “benteng stelsel”. Jalan yang dibuat untuk mempermudah mengirim logistik dan tentara  untuk mendesak Diponegoro ke arah Menoreh telah dimanfaatkan untuk dibuat taman dan patung dengan menghabiskan anggaran pemerintah.

Tidak terbentuknya iklim investasi disana menjadi tolok ukur dari kurang berhasilnya stimulus strategis Pemda Purworejo  bersama DPRD. Bahkan malah terdengar muncul ide membuat kawasan industri di daerah Grabag. Alih-alih akan menarik investor mungkin malah mengganggu lintasan pesawat turun ke Bandara Kulon Progo seolah menjadi paradoks yang tidak teramati.

Banyaknya kelompok muncul bertebaran dijagad medsos, tampak tak mendapat respon berarti dari yang berwenang. Mereka dianggap tak memberikan kontribusi secara jelas dan mereka memang sekedar berkegiatan mirip arisan atau kumpul-kumpul biasa.

Kelompok diaspora daerah tetangga mampu mengedepankan konsep kebersamaan dengan menggalang usaha berkelompok misalnya “Sate Pak Min” Boyolali, bakso dan jamu gendong Wonogiri, tempe mendoan Banyumas, Warteg Kharisma dari Tegal dll. Bahkan Kebumen bisa punya TV daerah oleh karena partisipasi warga diaspora, di Kaliangkrik muncul destinasi baru Nepal Van Jawa diketinggian G Sumbing, kota kecil Salaman bisa semarak hingga jam 10 malam dll.

Buku karya Renald Kasali “Disruption” memberi gambaran tentang sikap puritan mirip kaki seseorang yang tidak terasa digergaji dan tiba-tiba tumbang, ibarat sebuah sikap yang tak akan mampu bertahan diera digital ini tetapi tetap dipertahankan tanpa merasa butuh perubahan dan inovasi baru melalui gagasan-gagasan cerdas lainnya. Birokrasinya tampak enggan menyapa warga diperantauan kecuali sekedar tampil diacara rutin di TMII juga hanya basa-basi karena rutinitas biasa.

Gejolak proyek Bener sekilas seperti membenarkan sikap itu ditambah kemungkinan bermainnya diantara segelintir oknum untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Tak tampak ketokohan seseorang untuk mencari win-win solution, terkesan bergerak liar tapi terkoordinir. Suasana sempat memuncak saling sikut untuk masing-masing bertahan pada prinsip, bukan pada sikap ikut nyengkuyung proporsional.

Ada beberapa rencana proyek stimulus disekitar Purworejo yaitu pengembangan kawasan wisata Borobudur dan Bandara Kulon Progo. Keduanya dihubungkan dengan jalan tol yang nanti juga akan menghubungkan daerah Banyumas melalui Purworejo. Tak terlalu menguntungkan tol itu bagi Purworejo sebab mungkin justru menjadikannya Purworejo termarjinalkan. Seperti kota Indramayu juga kota-kota sepanjang pantura telah terdampak justru oleh kehadiran jalan tol demikian juga menjelang di Purworejo.

Proyek Bener mungkin kesempatan namun perlu pemikiran cerdas sebagai jalan tengah yang harus dikembangkan dan bukan dengan model bentrok di dorong-dorong oleh pihak ketiga. Pikiran untuk maju justru tertutup oleh yang puritan dimana tanpa sadar daerah lain menggeliat penuh semangat. Mencari gagasan bukan duduk diam menyendiri seperti dukun tetapi bisa melalui sarasehan, diskusi atau berinteraksi. Jemput bola diantara putra-outra  terbaiknya dengan gagasan baru yang inovatif kekinian, libatkan pihak ketiga dan swasta. Buka peluang untuk warga mau pulang membangun daerah asalnya. Birokrasi dibuat terbuka dan bukan mingkup seperti angkup asyik bermain dengan kelompoknya.

Buat apa stasiun dan rel diam terbengkelai, mengapa tak diupayakan usul terus ke Borobudur misalnya. Terminal sepi dan perdagangan tak bergerak tak juga memancing inisiatip. Ada kreasi baru patung anak muda di Kedung Kebo dan hanya ada geliat anak2 bermain mobil becak di seputar alun-alun  kota dimalam minggu. Kios tukang cukur yang marak dibelakang rumah dinas Bupati bukan memberi kontribusi keindahan kota tapi terkesan kumuh kurang tertata. Pertokoan yang hanya aktip sampai jam dua masih seperti dulu jaman kecilku adalah gambaran sikap puritan yang menghambat rencana jalan kedepan.

Jika mau geser saja pasar Singodranan ke dalam terminal atau barter saja pasar hewan tepi jalan dengan sawah sekitar terminal demi mendukung berdirinya pasar induk Kedu Selatan, pasti angkot dijamin hilir mudik semenjak subuh sampai dengan sore hari. Rel sampai Borobudur menjadi pemicu bergeraknya aktifitas stasiun Purworejo menjadi destinasi baru atau dimungkinkannya menjadi terminal KA depo angkutan peti kemas Kedu Selatan dibekas pasar Singodranan.

Kota ini tak memilik daya tarik baru misalnya mall seperti Artos di Magelang atau mungkin rintisan destinasi kota lama seperti di Semarang atau menggerakkan daerah Pandanrejo  Kaligesing menjadi tempat mangkal makan jagung diketinggian seiring dengan menjelang dibangunnya kawasan wisata baru dipedalaman Menoreh. Jangan juga melepas liarkan industri tambak udang Ketawang yang tak masuk pada master plan di Purworejo.

Jakarta, 1 Mei 2021

 

 

About the author

pronect

Add Comment

Click here to post a comment