Ekspresi

“Stasiun Kereta Api Purworedjo & Generasi 80”

Oleh: Hanafi Muhamad

” Mungkin kita dapat mencuri dari David Bowie, dan kita terus menerus menggali.”

Seperti saat sekarang ini, saya sedang mencuri waktu tidur anda. Pertama saya mencuri jam jalanaan dari Kota Depok ke Bandung, agar tidak terkendala macet saya berangkat jam sembilan  malam.

Dan barulah besok pagi saudara-saudara semua yang ada di grup Diaspora Keluarga Purworejo, wall ini membaca. Kini di Bandung jam 02.30 pagi, masih belum juga bisa membuat kantuk untuk alat tidur………

***        ***       ***

Stasiun kereta api Purworejo kali ini. David Bowie bilang: “Seni yang pernah kupelajari hanyalah yang bisa aku curi”. Seni rancang bangun stasiun kereta api di kota yang pernah suatu hari melahirkan saya, saya curi.

Sebab ia mencuri lebih dulu dan menyimpan kenangan masa kecil yang saya miliki dengan diam-diam: membuat pedang dari sebuah paku yang saya lindaskan di bawah roda besinya.

  sket                       Teater arsip/partitur batu-batu

“Panas njlentrang ngene iki mau. Nek iki mandan wis rodo sore.Sakwayah-wayah iso kremun. Kadang iso seko kidul stasiun.Aku nyeket iki nganggo sedotan ijo seko Starbucks, lali kuas e ra kegowo di Bandung. Iki sedotane, lan iki mangsine.”

             

Ini artinya apa? “ Kalau kita hidup tidak bekerja, tidak bergerak. Anak-anak takut, nanti ada makan siangkah tidak?”

Tak ada orang tahu dimana kenangan itu ia simpan. Kini saya curi kembali apa yang bisa saya curi darinya.
Demikian juga Kali Bogowonto, bagi saya mereka memberi sesuatu yang “musikal” pada telinga dan benak saya yang mulai ragu.


“Apakah batu-batu di kali itu masih menyimpan partitur mereka?”Saya tidak yakin sebab, saya melihat sendiri bahwa batu-batu itu telah digempur setiap hari untuk pembangunan kota.”

Kalau mau kita harus membuat liang ke dalam benak untuk mendapatkan arsip bunyi dalam teater batu baru.
Tak terelakkan bahwa setiap kita berada bersama dalam “kejauhan” dimana setiap masa kini harus bisa tetap merawat keterhubungan yang pernah kita miliki dengan dasar alasan manapun dan yang apapun.

Kita tidak saling menatap, tetapi kita mempunyai semacam “kerinduan” yang alih-alih membuat rencana sebuah “kemungkinan” akan sebuah pertemuan.

Kesalahpahaman tak terhindarkan di setiap masa kini, tetapi “pemaafan” selalu mudah diberikan kepada pihak lain yang tak sengaja dalam melakukannya, maka “budaya kritik” harus dibangun kembali dan kita tinggal dibalik atapnya.

Apabila diijinkan saya akan menyebutkan Purworejo tahun 80an lebih menyerupai “zona” kecil yang terdapat anak-anak muda yang di antara mereka mudah membuat hubungan dalam bentuk kreatifitas kesenian dibanding menyebut Purworejo sebagai sebuah kota.

Bakat. Hal ini kedengaran agak canggung dan karena itu perlu diuji bahwa hal itu memang beda dan membedakan dari anak muda satu dengan anak muda berbakat itu.

Dunia keterampilan dan “kepengrajinan” sering hanya berujung di hilir yang pendek, tidak mendalam sebab, saat itu tak ada juru tulis dan bacaan yang memadai yang menerangkan: sebuah cara berpikir disamping juga cara membuat. Tak ada kajian maka tak ada data.

Tetapi zona kecil memudahkan kami membuat hubungan hubungan “partikelir” dalam konteks minimnya perhatian yang datang dari atau paling tidak “sekolah” sebelum institusi kesenian didirikan.